Langsung ke konten utama

The Power of Night


Di antara rahasia ciptaan Allah SWT ialah diciptakan-Nya waktu yang berpasang-pasangan, yakni penciptaan malam yang berpasangan dengan siang. Penciptaan malam menjadi sebuah rahasia tersendiri, tatkala Allah Ta’ala menyebutkan berbagai kejadian sangat penting di waktu malam, seperti peristiwa Isra dan Mi’raj, Lailatul Qadr, malam Nishfu Sya’ban, malam-malam sepanjang Ramadhan, ibadah Tahajjud, dan sebagainya. Kenapa malam dipilih bagi peristiwa-peristiwa istimewa bagi umat Nabi Muhammad SAW?

Mengapa Allah memperjalankan hamba-Nya di malam hari (lailah) bukan di siang hari (nahar) ? Kata lailah dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna. Makna literal malam adalah siang, makna alegorisnya dapat berarti gelap atau kegelapan, kesunyian, keheningan, kesyahduan. Dapat juga bermakna anagogis (spiritual) , lailah bisa bermakna kekhusyu’an, kepasrahan (tawakal)  atau kedekatan (taqarrub) kepada Allah.

Al-Imam As-Suyuthi dalam kitabnya yang berjudul Asrar al-Kaun menukil suatu riwayat dari Al-Hakim berdasarkan hadits yang disampaikan Abu Hurairah dari Nabi SAW. Seorang laki-laki datang menghadap kepada Nabi untuk ber­tanya, “Wahai Muhammad, apakah engkau melihat surga itu terhampar seluas langit dan bumi? Jika demikian, di manakah neraka?

Nabi SAW menjawab dengan balik bertanya, “Apakah engkau melihat bagaimana malam menyelimuti segala sesuatu (hingga gelap tak terlihat), maka di manakah siang saat itu?

Laki-laki itu terdiam, lalu berkata, “Sungguh Allah yang lebih tahu.”

Beliau pun melanjutkan, “Demikianlah, Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Mustadrak, karya Al-Hakim, bab Iman).

Ragam Makna Lailah

Ditelisik dalam beberapa syair Arab, kata lailah lebih banyak digunakan dengan makna alegoris (majaz) dari pada makna literal.  Salah satu contoh ungkapan  penyair yang menggambarkan harapan pengantin baru : “Yaa laiil thul, yaa shubh qif” (wahai malam bertambah panjanglah, wahai shubuh berhentilah).

Lailah dalam bait di atas berarti kesyahduan, keindahan, kenikmatan dan kehangatan sebagiamana dirasakan oleh pengantin baru, yang menyesali akan pendeknya malam.

Berbeda dengan para penyair sufistik dan hukama, mereka lebih menekankan kata lailah dalam makna anagoris. Para sufi  lebih banyak menggunakan waktu malamnya  untuk mendaki (taraqqi) menuju Tuhan. Mereka berterima kasih kepada malam (lailah) yang selalu menemani kesendirian mereka. Imam syafi’i mengungkapkan: Man thalabal ula sahirallayaali (barang siapa yang mendambakan martabat utama banyaklah berjaga di waktu malam) Kata layaali disini berarti keakraban dan kerinduan antara hamba dan Tuhannya.

Makna lailah dalam ayat di atas  (surat Pertama al Isra) menunjukkan makna anagogis,  yang lebih menekankan aspek kekuatan spiritual malam (the Power of Night). Kekuatan emosional –spiritual malam hari yang dialami Rasulullah, dipicu oleh suasana sedih yang sangat mendalam karena sang isteri sekaligus pelindungnya, Khadijah baru saja pergi untuk selama lamanya.

Suasana duka di malam hari dimanfaatkan Rasulullah sebagai kekuatan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Kesedihan dan kepasrahan yang begitu memuncak membawa Rasulullah menembus batas batas spiritual tertentu, bahkan sampai puncak bernama sidratul muntaha. Di sanalah Rasulullah diinstal dengan spirit luar biasa sehingga malaikat jibril sebagai panglima para malaikat juga tidak sanggup menembus puncak batas spiritual tersebut.

Kekuatan Spiritual Malam

Allah SWT berfirman: dalam QS: Al Isra : 79, Adz Dzariyat : 17

z79. dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.

   
17. di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.


Kata Lailah dalam tiga ayat di atas mengisyaratkan malam sebagai rahasia untuk mencapaiu ketinggian martabat utama di sisi Allah SWT.  Seolah- olah jarak spiritual antara hamba dan Tuhan lebih pendek di malam hari, ini mengingatkan kita bahwa hampir semua prestasi puncak spritual di malam hari.

Allah SWT mengundang Nabi Muhammad SAW di suatu malam pada bulan Rajab untuk menerima hadiah berupa perintah shalat lima waktu. Anugerah hadiah itu diberikan di waktu malam, dan tiga di antara shalat lima waktu dipilihkan Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW juga di waktu malam: shalat Maghrib, di awal malam, shalat Isya, di pertengahan awal malam, dan shalat Subuh, di akhir malam.

Ada satu bagian malam lagi yang Allah anugerahkan dan pilihkan bagi umat nabi yang mulia ini untuk bermesraan dengan-Nya, yakni waktu sepertiga malam. Allah Ta’ala tidak menjadikan kewajiban padanya, melainkan sebuah penawaran bagi mereka yang ingin dekat dengan-Nya. Itulah yang disebut qiyamul lail, atau mengisi waktu malam dengan banyak ibadah, seperti shalat Tahajjud, tadarus Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan mengadukan perihal kehidupan kepada-Nya.

Waktu malam yang sedemikian istimewa ini diberikan Allah Ta’ala, dan semakin terasa lebih istimewa di saat malam-malam bulan Ramadhan, hingga Allah akan menyandangkan kehormatan bagi siapa yang dikehendaki-Nya di Malam Qadr, atau Lailatul Qadr, di penghujung malam bulan Ramadhan, menurut berbagai riwayat yang termasyhur. Inilah waktu yang teramat istimewa yang sungguh sangat sayang jika terlewatkan.

Kenapa malam sedemikian istimewa untuk berkomunikasi dengan Sang Maha Pengasih? Karena Al-Qur’an menyebutkan bahwa waktu malam itu “asyaddu wath’an wa aqwamu qila” (sangat menyambung dengan Allah, dan ucapannya sangat mantap), sebagaimana tertuang dalam QS Al-Muzammil: 6.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan Ahmad Sukandar Pendahuluan Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional, yang mewariskan filosofi “Tut Wuri Handayani” (mendorong dari belakang dengan memberi ruang kemandirian). Di tengah dinamika global seperti revolusi teknologi, krisis iklim, dan polarisasi sosial, pendidikan tidak hanya menjadi instrumen mobilitas vertikal individu, tetapi juga pondasi ketahanan bangsa. Artikel ini merefleksikan progres, tantangan, dan solusi sistem pendidikan Indonesia dalam perspektif kekinian, dengan menekankan pada integrasi kebijakan inklusif, peningkatan kualitas guru, dan kolaborasi multipihak. I . Pendidikan sebagai Poros Pembangunan SDM di Era VUCA Era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) menuntut sistem pendidikan yang adaptif. Berdasarkan laporan Wor...

"QURBAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL: MENJADI UMAT YANG RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL DAN LOKAL"

Dr. Ahmad Sukandar, S. Ag, M. MPd     اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَ...

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam Oleh: Ahmad Sukandar Abstrak Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang program pendidikan barak militer ala Dedi Mulyadi mengungkap berbagai pelanggaran terhadap prinsip dasar pendidikan dan hak anak. Artikel ini menganalisis temuan tersebut dari perspektif ilmu pendidikan dan manajemen pendidikan, sekaligus menawarkan solusi berbasis pendidikan Islam. Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman, membebaskan, dan memberdayakan anak, bukan ajang intimidasi terselubung dengan dalih pembentukan karakter. Dalam konteks ini, nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, penghormatan terhadap fitrah anak, dan keteladanan menjadi alternatif paradigmatik yang sangat relevan. Pendahuluan Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak dan merupakan pilar utama pembentukan kepribadian, akhlak, dan peradaban. Namun, ketika pendidikan disalahartika...