Asal usul Lukmanul Hakim
Luqman (Arab: لقمان
الحكيم, Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) adalah
orang yang disebut dalam Al-Qur'an dalam surah Luqman [31]:12-19
yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir berpendapat
bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman
bin Unaqa' bin Sadun. Sedangkan
asal usul Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan
bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan
berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat ia berasal dari Sudan. Dan ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim pada zaman nabi Dawud.(Wikipedia)
Luqman itu adalah anak dari
Faghur bin Nakhur bin Tarikh (Azar), dengan demikian Luqman, ada kaitan
keluarga dengan Nabi Ibrahim a.s.; atau dikatakan juga Luqman itu anak saudara Nabi
Ayub a.s.
Diriwayatkan bahwa usia Luqman
seribu tahu (1,000) tahun sehingga dapat menemui zaman kebangkitan Nabi Daud
a.s., bahkan dia juga pernah menolong Nabi Daud a.s. dengan memberikan
kepadanya Hikmah atau kebijaksanaan. Luqman pernah menjadi Qadi, yakni hakim,
untuk mengadili perbicaraan kaum Bani Israel.
AI-Allahamah AI-Alusy berkata:
“Kebanyakan pendapat mengatakan bahwa beliau hidup di zaman Nabi Daud a.s.” dikatakan lagi: “Orang juga berselisih
pendapat, adakah beliau seorang yang merdeka atau seorang hamba? Kebanyakan
pihak mengatakan beliau adalah seorang hamba Habsyi”
Dikutif dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Luqman bukanlah
seorang nabi atau pun raja tetapi beliau hanyalah seorang pengembala ternaka
yang berkulit hitam. Lalu Allah memerdekakannya dan sesungguhnya Dia redha
dengan segala kata-kata dan wasiat Luqman. Maka dari itu, kisah ini diceritakan
di dalam AI-Quran agar wasiat-wasiatnya dapat dijadikan pedoman dan pegangan hidup.”
Ibnu Kathir berkata: ‘Ulama’
salaf berselisih pendapat tentang diri
Luqman; adakah dia seorang nabi atau pun seorang hamba yang soleh tidk sampai
ke taraf kenabian? Di antara dua
pendapat ini, kebanyakan mereka berpegang dengan pendapat yang kedua.’
Para ulama’ semuanya sepakat
mengatakan Luqman itu seorang bertaraf wali dan Ahli Hikmah (bijak bistari),
bukan seorang nabi, kerana lafaz hikmah dalam ayat di atas dimaknakan
‘kenabian’. Dan dikatakan juga apabila Luqman disuruh pilih antara Hikmah
(kebijaksanaan) dengan Nubuwwah (kenabian), dipilihnya Hikmah. Di antara para
ulama’ tersebut ialah seperti Mujahid, Sa’id bin AI-Musayyab dan Ibnu Abbas.
Wallahu A’lam.”
Ibnu Kathir menyebutkan di
dalam kitab sejarahnya: “Beliau ialah Luqman bin Unqaa’ bin Sadam.” Diceritakan
dari As Suhaili, dari Ibnu Jarir dan AI-Qutaibi: “Beliau ialah Luqman bin
Tharan”
Dikatakan bahwa beliau ialah
anak dari AI- Baura’. Ibnu Ishaq menyebutkan beliau ialah Luqman bin AI Baura’
bin Tarikh iaitu Aazar Abu Ibrahim AI-Khalil.
Diriwayatkan bahwa Luqman
berasal dari Sudan/Mesir, berkulit hitam, bibirnya tebal dan kulit kakinya pula
retak-retak. Juga dikatakan bahawa sebaik-baik orang dari benua Afrika itu
adalah 3 orang, iaitu: Bilal bin Robah, Mahja’ (yakni hamba sahaya Sayidina
Umar ibn Khattab) dan Luqman al-Hakim. Orang yang ke empat pula ialah
an-Najasyi (Raja Habsyah yang beriman di zaman Nabi Muhammad s.a.w.)
Ibnu Qutaibah berkata: “Luqman
adalah seorang hamba Habsyi kepada seorang lelaki dari kalangan bani Israil.
Kemudian beliau dibebaskan dan diberikannya harta.”
Diriwayatkan dari Abu Hurairah
r.a., dia telah berkata: Rasullullah s.a.w. pernah bersabda:
“Adakah engkau semua tahu
siapakah dia Luqman? “Mereka pun menjawab: “Allah dan Rasul-Nya sahaja yang
lebih tahu.” Baginda bersabda: “Dia adalah seorang Habsyi.” Pendapat yang
mengatakan dia adalah seorang habsyi, adalah dari lbnu Abbas dan Mujahid.
As-Suhaili berkata: “Luqman
adalah Naubah dari penduduk Ielah ( Sebuah bandar di tepi laut merah )”
Demikian juga dipetik oleh Qatadah, dari Abdullah bin Az-Zubair: Aku telah bertanya
kepada Jabir bin Abdullah: “Apakah cerita terakhir yang sampai kepadamu tentang
perihal diri Luqman? “J abir menjawab: “Dia adalah seorang yang pendek, pesek
hidungnya dari keturunan Naubah.” lanya juga sebagaimana yang disebutkan dari
Sa’id bin
AI Musayyab, katanya: “Luqman
adalah dari Sudan, Mesir.”
AI-Hassan AI-Basri pula
berkata: “Luqman telah membina sebuah singgahsana di Ramlah, Syam. Pada masa
itu, tempat tersebut masih lagi belum dibangunkan. Dia berada di sana
sehinggalah Ian jut usianya dan meninggal dunia.”
Ibrahim bin Adham berkata: “Aku
telah diberitahu bahwa kubur Luqman adalah di antara Masjid Ar-Ramlah dan
tempat didirikan pasar pada hari ini.Di tempat tersebut terdapat 70 kubur
nabi-nabi sebelum Luqman.
Dilaporkan, bahwa Luqman adalah
seorang mufti sebelum Nabi Daud a.s dibangkitkan. Apabila baginda diutuskan
kepada umatnya, Luqman berhenti dari memberikan fatwa. Ada orang bertanyakan;
padanya tentang hal itu lalu dia pun berkata: “Adakah aku tidak mahu berhenti
apabila aku telah merasa cukup?!! “
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
dari Mujahid: “Beliau adalah seorang Qadhi di kalangan kaum bani Israil di
zaman Nabi Daud a.s”
Kemuliaan Lukmanul Hakim
Diceritakan, bahwa Luqman,
tatkala tidur di siang hari, kemudian terdengar suara memanggilnya: “Hai
Luqman! Mahukah engkau kalau Aku jadidak engkau seorang Khalifah di muka bumi
yang memerintah manusia dengan hukuman yang benar?” Dijawabnya: “Jika Allah
menyuruhku untuk memilih, maka saya akan pilih ‘Afiat (selamat) dan saya tidak
mahu bala (ujian). Tetapi jika aku ditugaskan agar aku mentaati. Karena aku tahu
bahwa Allah Taala jika menetapkan sesuatu kepadaku pasti Dia menolong dan
memeliharaku.” Kemudian dijelaskan bahwa para malaikat pun bertanya: “Hai
Luqman! sekakah engkau diberi Hikmah?” Dijawabnya: “Sesungguhnya seorang hakim
kedudukannya berat, dia akan didatangi oleh orang-orang yang teraniaya dari
segenap tempat. Kalau hakim adil akan selamat, dan kalau dia salah jalan akan salah
pula, itu jalannya ke neraka. Siapa yang
keadaannya hidup di dunia, itu lebih baik daripada dia menjadi mulia. Dan siapa
yang memilih dunia lebih daripada akhirat, akan terfitnah oleh dunia dan tidak
mendapat akhirat.”
Para malaikat pun takjub
mendengarkan keindahan kata-katanya itu. Apabila Luqman tertidur, dia
dikurniakan Hikmah, lalu terjaga dan berbicara dengan kata-kata yang berhikmah
selepas itu.
Juga diriwayatkan bahwa Luqman
itu seorang hamba bangsa Habsyi, kerjanya sebagai tukang kayu, tukang jahit dan
seorang penggembala kambing. Apabila bertemu dengan seorang lelaki dia bercakap
dengan penuh Hikmah, sehingga orang lelaki itu takjub lalu berkata: “Bukankah
engkau seorang penggembala kambing?” Dijawabnya: “Benar!” Lalu ditanya orang
lelaki itu lagi: “Bagaimana engkau telah dapat mencapai kedudukan engkau yang
begini (bijak bestari)?” Luqman menjawab: “Saya mendapatnya dengan bercakap
benar, memelihara amanah dan tak ambil tahu apa yang bukan urusan saya.” (Dipetik
dari tulisan Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam bukunya Lukman al Hakim)
Nasihat Lukman dalam Al Qur'an
Al Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu
pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di
dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al Qur’an
adalah kisah perjalanan kehidupan para nabi dan rasul serta orang-orang saleh
dari umat-umat sebelum nabi Muhammad SAW. Hikmah diceritakannya sirah
manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan
iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka disini akan saya angkat sebuah kisah Luqman
Al Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.
1. Tidak menyekutukan Allah.
Sebesar-besar
kedzaliman dan kemungkaran adalah menyekutukan Allah SWT, sebagaimana firman
Allah SWT
“Dan
(ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Q.S.
Luqman:13)
Allah
SWT tidak akan mengampuni dosa syirik, kecuali ia bertobat dan meninggalkan
perbuatannya. Sesungguhnya hanya Allah sajalah yang berhak untuk
disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya
disembah (Allahu mustahiqqul ‘ibaadah). Dia lah yang berhaq di mintai pertolongan. Hanya kepada-Nyalah segala urusan diserahkan, takut (khouf), berharap (raja’) hanya layak ditujukan kepada Allah swt, bukan kepada yang lainnya
2. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
Firman
Allah SWT.
“Dan
Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;
ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu
bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”( QS.Luqman: 14)
Di dalam
riwayat Bukhari, Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat:
“Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)
“Amalan apakah yang dicintai oleh Allah ?Beliau menjawab: Shalat pada waktunya, ia bertanya lagi: Kemudian Apa ?, Beliau menjawab: berbuat baik kepada orang tua, .Ia bertanya lagi: kemudian apa?, Belau menjawab: Jihad di jalan Allah” (shahih Bukhari V/2227, hadits No.5625)
3. Ketaatan kepada kedua orang tua harus
dilandasi oleh ketaatan kepada Allah;
karena
tidak boleh taat kepada keduanya dalam rangka berbuat maksiat kepada Allah,
lebih-lebih menyekutukan Allah ( syirik ). Allah berfirman
“Dan
jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”(QS. Luqman: 14).
4. Mengikuti jalan orang-orang yang kembali
kepada Allah SWT
Firman Allah SWT
Dan
ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah
kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Luqman:
15)
Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.
Disini Luqman memberikan sebuah nasehat kepada anaknya agar ia mengikuti jejak orang-orang yang kembali kepada Allah SWT yaitu para nabi dan rasul serta orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, yang selalu bertaubat kepada Allah SWT, yang telah diberi Allah SWT hidayah, yaitu tetap dalam agama yang hanif yakni Islam.
5. Allah akan membalas semua perbuatan
manusia.
Firman
Allah swt :
(Luqman
berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji
sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah
akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha
Mengetahui.(Q.S: 16)
“Maka
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat
dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (QS. Al Zalzalah:
7-8).
6. Menegakkan sholat.
Shalat
adalah tiang agama, sehingga ia tidak akan tegak tanpa shalat. Maka sebagai
seorang yang beriman kita diwajibkan menegakkannya. Sebagaimana firman Allah
SWT dalam Surah Luqman ayat 17 yang berbunyi :
“Hai
anakku, dirikanlah shalat …”
Shalat
dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman
Allah SWT.
…”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)
…”Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabuut: 45)
7. Amar Ma’ruf nahi Munkar.
Ada dua
komponen penting dalam Islam yang memberikan sebuah dorongan yang kuat kepada
setiap muslim untuk mendakwahkan agama yang dianutnya, yaitu Amar ma’ruf nahi
mungkar (memerintahkan berbuat kebajikan dan mencegah yang mungkar). Perintah
untuk beramar ma’ruf nahi mungkar sangat banyak di dalam Al Qur’an seperti :
“Dan
hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung”.(QS. Ali Imran:104).
8. Bersabar terhadap apa yang menimpa kita.
Sesungguhnya
segala cobaan yang menimpa seorang muslim itu adalah merupakan sesuatu yang
mesti terjadi karena itulah bentuk ujian (ikhtibar) dari Allah SWT, apakah ia
sabar atau tidak ?, firman Allah SWT.
“Dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).”(QS. Luqman:17)
9. Tidak Menyombongkan diri
Sifat
takabur atau merasa besar dihadapan manusia adalah sifat yang dibenci oleh
Allah SWT.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
10. Bersikap pertengahan dalam segala hal
dan berakhlaq yang baik
Islam
tidak menghendaki sikap Ghuluw (berlebih-lebihan) juga tidak menginginkan untuk
bersikap tahawun (meremehkan) dalam segala hal termasuk juga dalam
perkara-perkara yang menurut penilaian sebagian orang dianggap kecil seperti
sikap berjalan, berbicara dsb. Allah SWT mengatur itu semua sebagaimana
firmanNya:
“Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Manusia
akan mempunyai nilai jika menampakkan akhlaq yang baik, karena tujun diutusnya
Rasulullah SAW selain untuk menyeru kepada Allah ( Ad-dakwah ilallah) adalah
untuk menyempurnakan Akhlaq dan budi pekerti.
Komentar
Posting Komentar