Falsafah Sholat
Falsafah adalah anggapan, gagasan, dan sikap batin yg
paling dasar yg dimiliki oleh orang atau masyarakat; pandangan hidup; Dalam
bahasa Inggris didefinisikan sebagai : a belief (or system of beliefs)
accepted as authoritative by some group or school, diartikan juga : the rational investigation of questions about existence and
knowledge and ethics(noun.cognition) , juga berarti any personal belief about how to live or how to deal with
a situation , dan dalam Webster1913
diartikan ; Literally, the love of, including the
search after, wisdom; in actual usage, the knowledge of phenomena as explained
by, and resolved into, causes and reasons, powers and laws.(noun)
Merujuk
pada pengertian di atas maka falsafah sholat adalah sikap bathin yang sangat
mendasar tentang perintah ibadah sholat. Berikut
akan dijelaskan beberapa falsafah sholat baik di lihat dari sisi sarat sahnya
sholat, maupun dalam pelaksanaan shalatnya itu sendiri.
Al Quranul karim banyak memuat perintah agar kita menegakkan
shalat (“iqamat al-shalah”, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan), dan
menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena
shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. QS. Al-Mu’minun 23:1-2).
Sebuah hadits Nabi SAW menegaskan, “Yang pertama kali akan diperhitungkan
tentang seorang hamba pada hari Kiamat ialah shalat: jika baik, maka baik
pulalah seluruh amalnya; dan jika rusak, maka rusak pulalah seluruh amalnya.”
Dan sabda beliau lagi, “Pangkal segala perkara ialah al-Islam (sikap pasrah
kepada Allah), tiang penyangganya shalat, dan puncak tertingginya ialah
perjuangan di jalan Allah.”
Melalui ibadah sholat yang diwajibkan Allah SWT
kepada setiap orang yang mukallaf, secara tidak langsung Allah SWT
memerintahkan kewajiban kewajiban lainnya, yang tentunya bermnfaat bagi
sipelaku dan pelaksana kewajiban itu.
Bersuci
Salah satu syarat sahnya sholat adalah suci
dari hadas dan najis. menurut syatiat bersuci itu menggunakan air. Air yang
digunakan, tidak sembarang air; yaitu
air mutlak yang suci dan mensucikan. Dari mana air itu ? tentunya air tidak
datang dengan sendirinya, air harus dicari dari sumbernya baik dengan mencari
mata air atau menggali tanah. menggali tanah tentu harus menggunakan
peralatan,baik peralatan ringan sampai peralatan berat, mulai dari peralatan
manual sampai mesin. dari mana alatnya? tetu harus dibuat. dari mana mesinya ? juga harus diadakan dan
diciptakan agar air bisa didapat dengan mudah tanpa susah payah. siapa yang
punya pabrik alat ? siapa yang punya pabrik mesin, siapa yang punya pabrik
penampung air (torn) ? dan lain sebgainya. Yang jelas dengan Allah memerintahkan
bersuci dengan air saja, pada sat itu juga kaum muslimin diperintahkan untuk
mebuat pabrik alat dan mesin penyedot air.
Masuk Waktu
Shalat, dilaksanakan pada waktu dan saat yang
telah ditentukan. ".....innash sholaat kaanat 'alal mu'miniina kitaababm
mauquuta" Dari mana waktu itu diketahui. bagaimana bisa mentukan waktu?
tentu membutuhkan ilmu tertentu pula. ilmu perbintangan kah, ilmu falak kah,
setidaknya setiap muslim yang akan melaksanakan sholat wajib tahu waktu
waktunya. apakah melalui adzan, melalui bedug yang ditabuh, melalui pengumuman
di tv atau radio, melalui kalender yang dicetak dan ditempel di tiap tiap
masjid.
Dari kewajiban mengetahui masuk waktu dalam
sholat, secara tidak langsung umat Islam diperintahkan memilki ilmu tentang
penentuan waktu, umat islam diperintahkan memiliki alat yang menunjukkan waktu
itu. dari mana tahu waktu? siapa yang memiliki pabrik jam ? siapa yang
menguasai ilmu ilmu perbintangan ?
Satu Aurat (menutup Aurat)
Sholat akan menjadi sah salah satu syaratnya
menutup aurat. aurat laki laki adalah antara pusar dan lutut. sedang aurat
perempuan seluruh anggota badannya selain muka dan telapak tangan. dengan apa
aurat ditutup? tentu umumnya dengan kain. siapa yang memiliki pabrik kain dan
pabrik tenun. ? pemilik pabrik tekstil ?
Begitu banyak falsafah yang bisa didapat dari
salah satu perintah Allah SWT. Perintah sholat selain keawajiban yang bernilai
ritual ubudiah kepada Allah, bisa juga bernilai ilmiah, ekonomi, inovasi dan
lalin lain.
Karena demikian banyaknya penegasan-penegasan
tentang pentingnya shalat, tentu sepatutnya kita memahami makna shalat itu
sebaik mungkin. Bisa dikatakan shalat merupakan “kapsul” keseluruhan ajaran dan
tujuan agama, yang di dalamnya termuat ekstrak atau sari pati semua bahan
ajaran dan tujuan keagamaan. Dalam shalat itu kita mendapatkan keinsyafan akan
tujuan akhir hidup kita, yaitu penghambaan diri (ibadah) kepada Allah, Tuhan
Yang Maha Esa, dan melalui shalat itu kita memperoleh pendidikan untuk komitmen
kepada nilai-nilai hidup yang luhur. Dalam perkataan lain, nampak pada kita
bahwa shalat mempunyai dua makna sekaligus: Makna Intrinsik, sebagai tujuan
pada dirinya sendiri dan Makna Instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah
nilai-nilai luhur.
Makna Intrinsik Shalat (Arti Simbolik Takbirat
al-Ihram)
Kedua makna itu, baik yang intrinsik maupun
yang instrumental, dilambangkan dalam keseluruhan shalat, baik dalam unsur
bacaannya maupun tingkah lakunya. Secara Ilmu Fiqih, shalat dirumuskan sebagai
“Ibadah kepada Allah dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan
tertentu yang dibuka dengan Takbir (“Allahu Akbar“) dan ditutup dengan Taslim
(“al-salam-u ‘alaykam wa rahmatu-’l-Lah-i wa barakatah“), dengan runtutan dan
tertib tertentu yang diterapkan oleh agama Islam.
Takbir pembukaan shalat itu dinamakan “Takbir
Ihram” (Takbiratal-ihram), yang mengandung arti “takbir yang mengharamkan”,
yakni, mengharamkan segala tindakan dan tingkah laku yang tidak berkaitan
dengan shalat sebagai momen menghadap Tuhan. Takbir pembukaan itu seakan suatu
pernyataan formal seseorang untuk membuka hubungan pribadi dengan Tuhan
(“habl-un min-Allah“), dan mengharamkan atau memutuskan diri dari semua bentuk
hubungan dengan sesama manusia (”hablum minannas”). Maka, makna intrinsik
shalat yang disimbolkan dalam takbir pembukaan itu, melambangkan hubungan
dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika disebutkan bahwa tujuan
penciptaan jin dan manusia oleh Allah agar mereka menghamba kepada-Nya, maka
wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah shalat yang dibuka dengan
takbir tersebut, sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah.
Sikap menghadap Allah itu kemudian dikukuhkan
dengan membaca doa pembukaan (doa al-Iftitah), yaitu bacaan yang artinya,
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dia yang telah menciptakan
seluruh langit dan bumi, secara hanif (kecenderungan suci kepada kebaikan dan
kebenaran) lagi muslim (pasrah kepada Allah, Yang Maha Baik dan Benar itu), dan
aku tidaklah termasuk mereka yang melakukan syirik.” Dilanjutkan dengan seruan,
“Shalatku, darma baktiku, hidup dan matiku untuk Allah Penjaga seluruh alam
raya; tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah aku diperintahkan, dan aku termasuk
mereka yang pasrah (muslim).”
Jadi, dalam shalat itu seseorang diharapkan
hanya melakukan hubungan vertikal dengan Allah, dan tidak diperkenankan
melakukan hubungan horizontal dengan sesama makhluk (kecuali dalam keadaan
terpaksa). Inilah ide dasar dalam takbirat al-ihram. Dalam literatur Islam
Kejawen, shalat atau sembahyang dipandang sebagai “mati sajeroning hurip” (kematian
dalam hidup), karena memang kematian adalah panutan hubungan horizontal sesama
manusia guna memasuki alam akhirat yang merupakan “hari pembalasan” tanpa
hubungan horizotal seperti pembelaan, perantaraan, ataupun tolong-menolong (
QS. al-Baqarah 2:48, 123 dan 254 ).
Selanjutnya dia yang sedang melakukan shalat
hendaknya menyadari sedalam-dalamnya akan posisinya sebagai seorang makhluk
yang sedang menghadap Qaliknya, dengan penuh keharuan, kesyahduan dan
kekhusyukan. Sedapat mungkin ia menghayati kehadirannya di hadapan Sang Maha
Pencipta itu sedemikian rupa, sehingga ia “seolah-olah melihat Qaliknya”; dan
kalau pun ia tidak dapat melihat-Nya, ia harus menginsyafi sedalam-dalamnya
bahwa “Qaliknya melihat dia”, sesuai dengan makna Ihsan. Karena merupakan
peristiwa menghadap Tuhan, shalat juga sering dilukiskan sebagai mi’raj seorang
mukmin, dalam analogi dengan mi’raj Nabi SAW yang menghadap Allah secara
langsung di Sidrat al-Muntaha.
Dengan Ihsan, shalat mengajarkan salah satu
makna yang sangat penting, yaitu penginsyafan diri akan adanya Tuhan Yang Maha
Hadir (Omnipresent), sejalan dengan berbagai penegasan dalam Kitab Suci,
misalnya: “Dia (Allah) itu beserta kamu di manapun kamu berada, dan Allah Maha
teliti akan segala sesuatu yang kamu kerjakan.” ( QS. al-Hadid 57:4 ).
Lalu mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia
senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan
sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah
kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku
adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan
tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah
yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga
berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini,
yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali
kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang
Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan
“Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir
hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang
untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali
kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah)
Kitab Suci banyak memuat perintah agar kita
menegakkan shalat (“iqamat al-shalah”, yakni menjalankannya dengan penuh kesungguhan),
dan menggambarkan bahwa kebahagiaan kaum beriman adalah pertama-tama karena
shalatnya yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan. QS. Al-Mu’minun 23:1-2)
Mengapa shalat disyariatkan? Agar manusia
senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dalam wujud keinsyafan
sedalam-dalamnya akan ke-Maha-Hadiran-Nya. Ditegaskan, misalnya, dalam perintah
kepada Nabi Musa as saat ia berjumpa dengan Allah di Sinai: “Sesungguhnya Aku
adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku. Maka sembahlah olehmu akan Daku, dan
tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku!” ( QS. Thaha 20:14 ). Ingat kepada Allah
yang dapat diartikan kelanggengan hubungan yang dekat dengan Allah adalah juga
berarti menginsyafkan diri sendiri akan makna terakhir hidup di dunia ini,
yaitu bahwa “Sesungguhnya kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali
kepada-Nya” ( QS. al-Baqarah/2:156 ). Dalam literatur Islam Kejawen, Tuhan Yang
Maha Esa adalah “Sangkan-Paraning urip” (Asal dan Tujuan hidup), bahkan
“Sangkan-Paraning dumadi” (Asal dan Tujuan semua makhluk).
Keinsyafan terhadap Allah sebagai tujuan akhir
hidup (kata lain dari mengimani kehidupan akhirat) akan mendorong seseorang
untuk bertindak dan berpekerti sedemikian rupa sehingga kelak akan kembali
kepada Allah dengan penuh perkenan dan diperkenankan (radliyah mardliyyah).
Setelah manusia menyadari, bahwa Allah tidak
suka kepada sesuatu yang tidak benar dan tidak baik, maka tindakan dan pekerti
yang harus ditempuh dalam rangka hidup menuju Allah haruslah perbuatan yang
benar dan baik pula. Inilah jalan hidup yang lurus, yang asal-muasalnya
ditunjukkan dan diterangi hati nurani (nurani, memiliki sifat cahaya, yakni
terang dan menerangi), yang merupakan pusat rasa kesucian (fithrah) dan sumber
dorongan suci manusia menuju kebenaran (hanif).
Tetapi manusia adalah makhluk yang sekalipun
pada dasarnya baik, namun juga lemah. Kelemahan ini membuatnya tidak selalu
mampu menangkap kebaikan dan kebenaran dalam kehidupannya sehari-hari. Sering
kebenaran itu tak nampak padanya karena terhalang oleh hawa nafsu.
Maka ketika dalam shalat dibacalah Surat
Al-Fatihah. Kandungan makna surat itu yang terutama harus dihayati benar-benar
ialah permohonan kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus (al-shirath
al-mustaqim). Permohonan itu setelah didahului dengan pernyataan, bahwa seluruh
perbuatan dirinya akan dipertanggung jawabkan kepada Allah di hari akhir(
“basmalah” ), diteruskan dengan pengakuan dan panjatan pujian kepada-Nya
sebagai pemelihara seluruh alam raya (“hamdalah”), Yang Maha Pengasih
(“al-Rahman”) dan Maha Penyayang (“al-Rahim”).
Lalu dilanjutkan dengan pengakuan terhadap
Allah sebagai Penguasa Hari Pembalasan, di mana setiap orang akan berdiri
mutlak sebagai pribadi di hadapan-Nya selaku Maha Hakim, dikukuhkan dengan
pernyataan bahwa kita tidak akan menghamba, kecuali kepada-Nya saja
semurni-murninya, dan juga hanya kepada-Nya saja kita memohon pertolongan
karena kita sadar bahwa kita sendiri tidak memiliki kemampuan intrinsik untuk
menemukan kebenaran.
Dalam peneguhan hati, bahwa kita tidak
menghambakan diri kecuali kepada-Nya serta dalam penegasan bahwa hanya
kepada-Nya kita mohon pertolongan tersebut, seperti dikatakan oleh Ibnu
‘Athahilah al-Sakandari, kita berusaha mengungkapkan ketulusan kita dalam
memohon bimbingan ke arah jalan yang benar. Yaitu ketulusan berbentuk pengakuan
bahwa kita tidak dibenarkan mengarahkan hidup ini kepada sesuatu apapun selain
Tuhan, dan ketulusan berbentuk pelepasan pretensi-pretensi akan kemampuan diri
menemukan kebenaran.
Dengan kata lain, dalam memohon petunjuk ke
jalan yang benar itu, dalam ketulusan, kita berharap kepada Allah bahwa Dia
akan mengabulkan permohonan kita. Namun pada saat yang sama juga ada kecemasan,
bahwa kebenaran tidak dapat kita tangkap dengan tepat karena kesucian fitrah
kita terkalahkan oleh kelemahan kita yang tidak dapat melepaskan diri dari
kungkungan kecenderungan diri sendiri.”Harap-harap cemas” itu merupakan
indikasi kerendahan hati dan tawadlu’, dan sikap itu merupakan pintu bagi
masuknya karunia rahmat llahi: “Berdoalah kamu kepada-Nya dengan kecemasan dan
harapan! Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada mereka yang berbuat baik” (
QS. al-A’raf/7:65 ).
Jadi, di hadapan Allah “nothing is taken for granted,” termasuk perasaan kita tentang
kebaikan dan kebenaran dalam hidup nyata sehari-hari. Artinya, apapun perasaan
kita, mungkin malah keyakinan kita tentang kebaikan dan kebenaran yang kita
miliki harus senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali (re-interpretasi)
Salah satu konsekuensinya adalah “kecemasan”
itu tadi. Jika tidak begitu, maka berarti hanya ada harapan saja. Sedangkan
harapan yang tanpa kecemasan samasekali adalah sikap kepastian diri yang
mengarah pada kesombongan. Seseorang disebut sesat pada saat ia yakin berada di
jalan yang benar, padahal sesungguhnya ia menempuh jalan yang keliru.
Keadaan orang yang demikian itu, lepas dari
“iktikad baiknya”, tidak akan sampai kepada tujuan, meskipun, menurut Ibn
Taymiyyah, masih sedikit lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak
peduli pada masalah moral dan etika; orang inilah yang mendapatkan murka dari
Allah.
Maka diajarkan kepada kita bahwa yang kita
mohon kepada Allah ialah jalan hidup mereka terdahulu yang telah mendapat
karunia kebahagiaan dari Dia, bukan jalan mereka yang terkena murka, dan bukan
pula jalan mereka yang sesat. Ini berarti ada suatu isyarat pada pengalaman
berbagai umat masa lalu. Maka ia juga mengisyaratkan adanya kewajiban
mempelajari dan belajar dari sejarah, guna menemukan jalan hidup yang benar. (
Lihat QS. Ali Imran/3:137).
Disebutkan dalam Kitab Suci bahwa shalat merupakan
kewajiban “berwaktu” atas kaum beriman ( QS. al-Nisa’/4:103 ). Yaitu,
diwajibkan pada waktu-waktu tertentu, dimulai dari dini hari (Subuh),
diteruskan ke siang hari (Dhuhur), kemudian sore hari (Ashar), lalu sesaat
setelah terbenam matahari (Maghrib) dan akhirnya di malam hari (’Isya). Hikmah
di balik penentuan waktu itu ialah agar kita jangan sampai lengah untuk ingat
Allah di waktu pagi, kemudian saat kita istirahat sejenak dari kerja (Dhuhur)
dan, lebih-lebih lagi, saat kita “santai” sesudah bekerja (dari Ashar sampai
‘Isya). Sebab, justru saat santai itulah biasanya dorongan dalam diri kita
untuk mencari kebenaran menjadi lemah, mungkin malah kita tergelincir pada
gelimang kesenangan dan kealpaan. Karena itulah ada pesan Ilahi agar kita
menegakkan semua shalat, terutama shalat tengah, yaitu Ashar ( QS.
al-Baqarah/2:238 ) dan agar kita mengisi waktu luang untuk bekerja keras
mendekati Tuhan ( QS. al-Insyirah/94:7-8 )
Komentar
Posting Komentar