Hikmah
Kata Hikmah/Hikmat dalam KBBI
diartikan: kebijaksanaan (dr Allah) (nomina), Contoh: kita
memohon ~ dr Allah Swt.; sakti; kesaktian (nomina) Contoh:~
kata-kata; arti atau makna yg dalam; manfaat (nomina) Contoh: wejangan
yg penuh ~;
Wikipedia Menjelaskan Hikmat atau Hikmah (bahasa
Inggris: Wisdom adalah
suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau
situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan
perbuatan sesuai pengertian tersebut. Seringkali membutuhkan penguasaan reaksi
emosional seseorang (passions) supaya prinsip, pertimbangan dan pengetahuan
universal dapat menentukan tindakan seseorang. Hikmat juga berarti pemahaman
akan apa yang benar dikaitkan dengan penilaian optimal terhadap suatu
perbuatan. Sinonimnya termasuk: kebijaksanaan, kecerdasan, akal budi, akal sehat, kecerdikan; bahasa
Inggris: sagacity,
discernment, or insight.
Dalam Islam, Hikmat dianggap salah satu karunia terbesar
yang dapat dinikmati manusia. Al Qur'an menyatakan :
"Allah
menganugrahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Qur'an dan as-Sunnah)
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al-hikmah
itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang
yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." al Qur'an, surah 2 (Al-Baqarah), ayat 269
Ada pula sejumlah ayat dimana Q'uran secara khusus
berbicara mengenai hakekat "Hikmah". Dalam Surah 22 Al-Hajj dikatakan, "maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi,
lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai
telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah
mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
(ayat 46). Dalam bagian lain Surah Al-An'am mencatat, "Katakanlah, "Marilah kubacakan apa yang
diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu, janganlah kamu mempersekutukan
sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan
janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan
memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati
perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang
tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar." Demikian
itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya)" al
Qur'an, surah 6 (Al-An'am), ayat 151
Sholat
Secara bahasa salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki
arti, doa. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna
serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul
ihram dan
diakhiri dengan salam.
Salat (bahasa Arab: صلاة;
transliterasi: Sholat),
merujuk kepada ritual ibadah pemeluk agama Islam.
Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata
cara Nabi Muhammad,
sebagai figur pengejawantah perintah Allah.[1] Umat
muslim diperintahkan untuk mendirikan salat, karena menurut Surah Al-'Ankabut dapat
mencegah perbuatan keji dan mungkar:
HIkmah Sholat
Allah adalah al-Hakim, pemilik
hikmah, tidak ada sesuatu yang Dia syariatkan kecuali ia pasti mengandung
hikmah, tidak ada sesuatu dari Allah yang sia-sia dan tidak berguna karena hal
itu bertentangan dengan hikmahNya, dan kita sebagai manusia dengan keterbatasan
tidak mungkin mengetahui dan mengungkap seluruh hikmah yang terkandung dalam
apa yang Allah syariatkan dan tetapkan, apa yang kita ketahui dari hikmah Allah
hanyalah sebagian kecil, dan yang tidak kita ketahui jauh lebih besar, “Dan
tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra`: 85).
Sekecil apapun dari hikmah Allah dalam sesuatu yang bisa kita ketahui, hal itu
sudah lebih dari cukup untuk mendorong dan memacu kita untuk melakukan sesuatu
tersebut karena pengetahuan tentang kebaikan sesuatu melecut orang untuk
melakukannya.
Ibadah shalat yang merupakan
ibadah teragung dalam Islam termasuk ibadah yang kaya dengan kandungan hikmah
kebaikan bagi orang yang melaksanakannya. Siapaun yang mengetahui dan pernah
merasakannya mengakui hak itu, oleh karena itu dia tidak akan rela
meninggalkannya, sebaliknya orang yang tidak pernah mengetahui akan berkata,
untuk apa shalat? Dengan nada pengingkaran.
Pertama: Manusia
memiliki dorongan nafsu kepada kebaikan dan keburukan, yang pertama ditumbuhkan
dan yang kedua direm dan dikendalikan, dan sarana pengendali terbaik adalah
ibadah shalat. Kenyataan membuktikan bahwa orang yang menegakkan shalat adalah
orang yang paling minim melakukan tindak kemaksiatan dan kriminal, sebaliknya
semakin jauh seseorang dari shalat, semakin terbuka peluang kemaksiatan dan
kriminalnya.
Firman Allah, “Dan dirikanlah
shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan
mungkar.” (Al-Ankabut: 45).
Dari sini kita memahami makna
dari penyandingan Allah antara menyia-nyiakan shalat dengan mengikuti syahwat
yang berujung kepada kesesatan.
Firman Allah, “Maka datanglah
sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan
memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.”
(Maryam: 59).
Kedua:
Seandainya seseorang telah terlanjur terjatuh kedalam kemaksiatan dan hal ini
pasti terjadi karena tidak ada menusia yang ma’shum (terjaga dari dosa) selain
para nabi dan rasul, maka shalat merupakan pembersih dan kaffarat terbaik untuk
itu.
Rasulullah saw mengumpamakan
shalat lima waktu dengan sebuah sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah
seorang dari kita, lalu dia mandi di sungai itu lima kali dalam sehari semalam,
adakah kotoran ditubuhnya yang masih tersisa?
Dari Abu Hurairah berkata, aku mendengar Rasulullah saw
bersabda,
أَرَأَيْتُمْ
لَوْ أَنَّ نَهْرَاً بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ
مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟ قَالُوا: لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ
شَيْءٌ، قَالَ: فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ يَمْحُو الله بِهِنَّ
الخَطَايَا.
“Menurut kalian seandainya ada sungai di depan pintu rumah salah
seorang dari kalian di mana dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apakah
masih ada kotorannya yang tersisa sedikit pun?” Mereka menjawab,”Tidak ada kotoran
yang tersisa sedikit pun.” Rasulullah saw bersabda, “Begitulah perumpamaan
shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” (HR.
al-Bukhari dan Muslim).
Dari Ibnu Mas’ud bahwa seorang
laki-laki mendaratkan sebuah ciuman kepada seorang wanita, lalu dia datang
kepada Nabi saw dan menyampaikan hal itu kepada beliau, maka Allah menurunkan, “Dan
dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian
permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu
menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114) Laki-laki
itu berkata, “Ini untukku?” Nabi saw menjawab, “Untuk seluruh umatku.”
(Muttafaq Alaihi).
Ketiga: Hidup
manusia tidak terbebas dari ujian dan cobaan, kesulitan dan kesempitan dan
dalam semua itu manusia memerlukan pegangan dan pijakan kokoh, jika tidak maka
dia akan terseret dan tidak mampu mengatasinya untuk bisa keluar darinya dengan
selamat seperti yang diharapkan, pijakan dan pegangan kokoh terbaik adalah
shalat, dengannya seseorang menjadi kuat ibarat batu karang yang tidak
bergeming di hantam ombak bertubu-tubi.
Firman Allah, “Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45).
Ibnu Katsir berkata, “Adapun
firman Allah, ‘Dan shalat’, maka shalat termasuk penolong terbesar dalam
keteguhan dalam suatu perkara.”
Firman Allah, “Hai
orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).
Ibnu Katsir berkata, “Allah Taala
menjelaskan bahwa sarana terbaik sebagai penolong dalam memikul musibah adalah
kesabaran dan shalat.”
Imam Abu Dawud meriwayatkan dari
Hudzaefah bahwa jika Rasulullah saw tertimpa suatu perkara yang berat maka
beliau melakukan shalat. (HR. Abu Dawud nomor 1319).
Keempat: Hidup
memiliki dua sisi, nikmat atau musibah, kebahagiaan atau kesedihan. Dua sisi
yang menuntut sikap berbeda, syukur atau sabar. Akan tetapi persoalannya tidak
mudah, karena manusia memiliki kecenderungan kufur pada saat meraih nikmat dan
berkeluh kesah pada saat meraih musibah, dan inilah yang terjadi pada manusia
secara umum, kecuali orang-orang yang shalat. Orang yang shalat akan mampu
menyeimbangkan sikap pada kedua keadaan hidup tersebut.
Firman Allah, “Sesungguhnya
manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa
kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,
kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan
shalatnya.” (Al-Ma’arij: 19-23).
Ibnu Katsir berkata, “Kemudian
Allah berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang shalat’ yakni manusia dari sisi
bahwa dia memiliki sifat-sifat tercela kecuali orang yang dijaga, diberi taufik
dan ditunjukkan oleh Allah kepada kebaikan yang dimudahkan sebab-sebabnya
olehNya dan mereka adalah orang-orang shalat.”
Sebagian dari hikmah yang penulis
sebutkan di atas cukup untuk membuktikan bahwa shalat adalah ibadah mulia lagi
agung di mana kita membutuhkannya dan bukan ia yang membutuhkan kita, dari sini
kita mendapatkan ayat-ayat al-Qur`an menetapkan bahwa perkara shalat ini
merupakan salah satu wasiat Allah kepada nabi-nabi dan wasiat nabi-nabi kepada
umatnya.
Allah berfirman tentang Isa putra
Maryam, “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku
berada, dan dia mewasiatkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat
selama aku hidup.” (Maryam: 31).
Allah berfirman tentang Musa, “Dan
dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Thaha: 14).
Allah berfirman tentang Ismail, “Dan
ia menyuruh ahlinya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang
yang diridhai di sisi Tuhannya.” (Maryam: 55).
Allah berfirman tentang Ibrahim, “Ya
Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan
shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (Ibrahim: 40).
Allah berfirman tentang Nabi
Muhammad, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan
bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132).
Komentar
Posting Komentar