Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kajian Kitab Kuning

"Beyond Law: The Metaphysical Foundations of Hanafi Jurisprudence in al-Fiqh al-Akbar" Mengapa Akidah adalah "Fikih Terbesar" dalam Pemikiran Imam Abu Hanifah?

  "Beyond Law: The Metaphysical Foundations of Hanafi Jurisprudence in al-Fiqh al-Akbar" Mengapa Akidah adalah "Fikih Terbesar" dalam Pemikiran Imam Abu Hanifah? Ahmad Sukandar Abstrak Kitab  al-Fiqh al-Akbar  karya Imam Abu Hanifah (w. 150 H) sering dianggap paradoks: meski bernama "fikih" (hukum Islam), isinya membahas akidah, bukan hukum praktis. Artikel ini membongkar makna filosofis di balik penamaan tersebut dengan mengeksplorasi konsep  "al-Fiqh al-Akbar"  (Pemahaman Terbesar) dan  "al-Fiqh al-Asghar"  (Pemahaman Kecil) dalam tradisi Hanafi. Melalui analisis historis-tekstual, artikel ini menunjukkan bahwa pemisahan hierarkis ini bukan hanya terminologis, tetapi merefleksikan epistemologi Islam klasik yang menempatkan teologi sebagai fondasi etika dan hukum. Dengan merujuk manuskrip primer dan studi kontemporer, artikel ini membuktikan bahwa kegagalan memahami "fikih akidah" akan mengerdilkan hukum Islam menjadi ...

Mendidik Diri Melawan Hawa Nafsu dan Takabbur: Integrasi Ajaran Nashaihul ‘Ibad, Teori Barat, dan Peran Ramadhan sebagai Madrasah Ruhani (Sebuah Tinjauan Akademis-Religius)

  Ahmad Sukandar  وَعَنْ سُفْيَان الثَّوْرِيْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ شَهْوَةٍ فَإِنَّهُ يُرْجَى غُفْرَانُهَا، وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ كِبْرٍ فَاِنَّهُ لَا يُرْجَى غُفْرَانُهَا، لِاَنَّ مَعْصِيَةَ اِبْلِيْسَ كَانَ اَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ، وَزِلَّةَ آدَمَ كَانَ اَصْلُهَا مِنَ الشَّهْوَةِ Artinya: “Dari Sufyan ats-Tsauri radliyallahu anh, ‘Setiap maksiat yang dilakukan dari unsur syahwat atau keinginan, pengampunan dari Allah layak diharapkan. Setiap maksiat yang timbul dari kesombongan, tidak bisa diharapkan ampunannya dari Allah. Karena maksiat iblis, bertumpu atas dasar kesombongan, dan kesalahan Adam pondasinya adalah mengikuti keinginan saja.” (Syihabuddin Ibnu Hajar al-Asqalani, Nashâihul ‘Ibâd [Lebanon, DKI], halaman 11)   Pendahuluan Manusia, dalam perjalanan hidupnya, dihadapkan pada dua musuh besar:  hawa nafsu  yang menjerumuskan ke dalam kesesakan duniawi, dan  takabbur  yang merusak relasi dengan Allah dan sesam...

Menyambut Bulan Suci Ramadhan: Refleksi atas Musibah Sejati dan Semangat Beribadah

Ahmad Sukandar  Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, ampunan, dan rahmat. Ia adalah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki hati, dan meningkatkan amal shaleh. Namun, seringkali kita terjebak dalam rutinitas duniawi sehingga lupa akan hakikat musibah sejati. Sebuah ibarat dari Hasyiyah al-Bajuri mengingatkan kita:   وَفْدٌ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ يُعَزِّي بَعْضُهُمْ بَعْضًا  تِسْعَةَ أَيَّامٍ إِذَا فَاتَتْهُمْ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ، وَتِلَادِئَةَ   أَيَّامٍ إِذَا فَاتَتْهُمْ تَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ مَعَ الْإِمَامِ.   وَصِفَةُ التَّعْزِيَةِ:  لَيْسَ الْمُصَابُ مَنْ فَارَقَ الْأَحِبَّابَ، بَلِ الْمُصَابُ مَنْ حُرِمَ التَّوَالِي." "Dahulu, para salafush shalih saling berbelasungkawa satu sama lain  selama sembilan hari jika mereka tertinggal shalat jamaah, dan selama  beberapa hari jika mereka tertinggal takbiratul ihram bersama imam.  Adapun sifat belasungkawa:  "Bukanlah musibah orang y...