Berkah di Balik Ujian di Penghujung Ramadhan
Oleh: Ahmad Sukandar
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin,
wash-shalatu wassalamu 'ala asyrafil anbiya'i wal mursalin, sayyidina wa
nabiyyina Muhammadin, wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Amma ba'du.
Jamaah Subuh Masjid Baiturrahim
yang dirahmati Allah SWT,
Pertama-tama, marilah kita
panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang dengan rahmat dan karunia-Nya
masih mempertemukan kita pada pagi hari yang penuh berkah ini. Kita masih
diberikan kesehatan, kesempatan, dan kekuatan untuk melaksanakan ibadah puasa
di hari ke-25 Ramadhan. Ini adalah nikmat yang tidak ternilai harganya.
Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga,
para sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Jamaah sekalian,
Tak terasa, kita telah memasuki
hari ke-25 Ramadhan. Artinya, kita telah melewati lebih dari tiga perempat
perjalanan bulan suci ini. Hanya tinggal beberapa hari lagi, Ramadhan akan
segera meninggalkan kita. Ini adalah momen krusial di mana kita harus meningkatkan
semangat, bukan mengendurkannya. Rasulullah SAW sendiri, jika memasuki sepuluh
hari terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan
malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah .
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Hari ini kita berada pada hari
ke-25. Dalam pembagian fase Ramadhan, kita saat ini berada pada fase ketiga
yang sangat istimewa, yaitu pembebasan dari api neraka atau itqun
minan nar. Setelah fase rahmat dan ampunan, kini Allah SWT membuka
seluas-luasnya kesempatan bagi hamba-Nya untuk dimerdekakan dari siksa
neraka .
Namun, saudara-saudaraku,
seringkali di penghujung Ramadhan seperti ini, justru berbagai ujian dan
musibah datang menghampiri. Ada yang tiba-tiba jatuh sakit, ada yang menghadapi
masalah keuangan, ada yang merasa kelelahan luar biasa, bahkan mungkin ada yang
mendapatkan kabar duka. Ini adalah fenomena yang lumrah terjadi. Saat kita
ingin fokus beribadah, berbagai hambatan justru muncul.
Lalu, bagaimana sikap kita
sebagai seorang mukmin? Apakah kita harus berputus asa? Justru sebaliknya,
jamaah sekalian. Di balik setiap ujian yang datang di penghujung
Ramadhan, tersimpan berkah dan hikmah yang luar biasa. Mari kita
renungkan bersama.
Pertama: Musibah Menjadi
Penghapus Dosa
Rasulullah SAW bersabda dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
"Tidaklah seorang muslim
itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa
sedih, gangguan atau rasa gelisah, sampai pun duri yang melukainya, melainkan
dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR. Al-Bukhari,
no. 5641 dan Muslim, no. 2573)
Subhanallah, jamaah sekalian.
Rasa lelah yang kita rasakan setelah hampir sebulan berpuasa, rasa kantuk yang
menyerang saat kita ingin shalat malam, rasa khawatir dan gelisah yang kadang
menghinggapi—semua itu ternyata menjadi sarana Allah membersihkan dosa-dosa
kita. Maka, jangan pernah mengeluh. Terimalah semua ujian ini dengan lapang
dada, karena itulah proses pembersihan diri kita.
Kedua: Pahala Tetap Mengalir
Meski Terhalang Ujian
Ini adalah kabar gembira lainnya.
Terkadang, karena sakit atau kesulitan, kita tidak bisa beribadah sebagaimana
biasanya. Kita tidak bisa shalat malam, tidak bisa tadarus panjang, tidak bisa
i'tikaf di masjid. Namun, perhatikanlah hadits berikut ini:
Rasulullah SAW bersabda:
"Jika seorang hamba sakit
atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana
kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat." (HR. Bukhari, no.
2996)
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ini menunjukkan betapa Maha
Pemurahnya Allah SWT. Jika sebelumnya kita rajin shalat malam, membaca
Al-Qur'an, dan bersedekah, maka meskipun saat ini kita terhalang oleh musibah,
Allah tetap memberikan pahala atas kebiasaan baik kita itu. Ini adalah bentuk
kasih sayang Allah yang tidak pernah putus.
Ketiga: Ujian Menjadi Bukti
Cinta Allah
Imam Al-Ghazali dalam kitabnya
menjelaskan bahwa ujian adalah bentuk perhatian Allah kepada hamba-Nya. Allah
tidak membiarkan hamba-Nya begitu saja tanpa proses pembersihan. Sebagaimana
emas harus dibakar untuk memisahkannya dari kotoran, demikian pula seorang
mukmin harus diuji agar imannya semakin murni.
Jamaah sekalian,
Jika saat ini kita sedang diuji,
entah dengan sakit, kelelahan, atau masalah lainnya, ingatlah bahwa Allah
sedang membersihkan kita. Allah sedang mempersiapkan kita untuk meraih
kemuliaan di sisa-sisa Ramadhan ini. Jangan pernah berprasangka buruk kepada
Allah. Justru di saat-saat seperti inilah kita harus semakin mendekatkan diri,
memperbanyak doa, dan memohon ampunan.
KISAH INSPIRATIF
Izinkan saya menceritakan sebuah
kisah. Diriwayatkan bahwa seorang ulama salaf, Malik bin Dinar rahimahullah,
pada suatu Ramadhan jatuh sakit di sepuluh hari terakhir. Para muridnya
menjenguk dan berkata, "Wahai guru, sungguh kami sedih engkau tidak bisa
beribadah maksimal di malam-malam mulia ini."
Malik bin Dinar tersenyum dan
berkata, "Jangan bersedih, wahai murid-muridku. Sejak aku sakit, aku tidak
pernah berhenti merasakan kehadiran Allah. Setiap rasa sakit yang kurasakan
mengingatkanku pada dosa-dosaku. Aku justru semakin dekat dengan-Nya melalui
doa dan tangisanku. Ingatlah, terkadang berbaring di atas kasur sambil berzikir
lebih baik daripada shalat malam seribu rakaat yang dilakukan dengan hati yang
lalai."
Kisah ini mengajarkan kita bahwa
kualitas ibadah tidak diukur dari seberapa banyak gerakan fisik kita, tetapi
dari seberapa dekat hati kita dengan Allah.
PENUTUP
Jamaah Masjid Baiturrahim yang
berbahagia,
Di hari ke-25 Ramadhan ini, mari
kita ambil hikmah:
- Jangan mengeluh dengan rasa lelah dan
ujian yang datang. Itu semua adalah penghapus dosa.
- Yakinlah bahwa Allah tetap mencatat
pahala kebiasaan baik kita, meskipun kita terhalang oleh musibah.
- Tingkatkan doa dan harapan kepada
Allah. Di fase pembebasan dari neraka ini, kita sangat membutuhkan
ampunan-Nya.
Marilah kita bersama-sama
memanjatkan doa, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, mengampuni
dosa-dosa kita, dan memerdekakan kita dari api neraka. Aamiin ya Rabbal
'alamin.
Sebelum saya akhiri, izinkan saya
mengingatkan bahwa setelah Ramadhan, kita dianjurkan untuk berpuasa enam hari
di bulan Syawal. Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa saja yang berpuasa
Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti
pahala berpuasa setahun." (HR. Muslim)
Mari kita persiapkan diri untuk
tetap istiqamah setelah Ramadhan berlalu.
Akhukum fillah,
Wassalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar
Posting Komentar