Langsung ke konten utama

"QURBAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL: MENJADI UMAT YANG RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL DAN LOKAL"


Dr. Ahmad Sukandar, S. Ag, M. MPd

  اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الرَّحْمَنِ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْانِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ التَّضْحِيَةَ نُورًا لِلْقُلُوْبِ، وَالتَّقْوَىٰ جِسْرًا إِلَى الْجِنَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ... أَمَّا بَعْدُ..."

"Warga Masjid Al Barokah yang dirahmati Allah...


Di pagi nan suci ini, langit Bekasi tersaput cahaya Ilahi. Kita berdiri di tanah yang sama, di kota yang tak pernah tidur, di antara hiruk-pikuk hidup yang kerap melalaikan. Namun, Allah mempertemukan kita dalam satu harmoni: harmoni kepasrahan.

Lihatlah sekeliling kita: gedung-gedung menjulang, jalanan penuh mobil, pasar-pasar sibuk... Tapi di tengah gemuruh kemajuan, adakah hati kita sejauh ini benar-benar merasa cukup? Atau justru kita terjebak dalam rasa kurang yang tiada berujung?

 

Hari ini, Idul Adha mengingatkan: Ibrahim ‘alaihissalam dan Ismail ‘alaihissalam mengajarkan kita arti syukur dan tawakal yang sesungguhnya.

 Bayangkan:

 Seorang ayah yang bersyukur atas anugerah anak, tapi rela mengorbankan cintanya demi cinta kepada Allah.

 Seorang anak yang bersyukur atas kehidupan, tapi memilih berserah diri di atas altar ketulusan.

Mereka tak bertanya: "Mengapa ujian seberat ini, Ya Rabb?"

Mereka berbisik: "Hasbunallâh wa ni‘mal Wakîl..."

Saudaraku...

Bersyukur bukan hanya saat rezeki melimpah, tapi saat kita mampu melihat bekal seadanya sebagai karunia.

Berserah diri bukan pasrah tanpa usaha, tapi meletakkan seluruh ikhtiar di atas keyakinan: "Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya."

Di kota Bekasi yang penuh dinamika ini, kita diuji:

Saat macet menerpa, bisikkan: "Alhamdulillâh ‘alâ kulli hâl."

Saat ekonomi sulit, ucapkan: "Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja‘altahu sahlan."

Saat hati gundah, pegang erat: "Qul huvallâhu Ahad..."

Ibadah qurban yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi syukur dan tawakal. Kita menyembelih hewan, tapi sejatinya kita sedang menyembelih keangkuhan diri: bahwa semua yang kita miliki adalah titipan-Nya semata.

Mari renungkan:

"Jika seekor kambing atau sapi saja kita korbankan demi Allah, akankah kita berat mengorbankan kesombongan, prasangka buruk, dan keluh kesah kita untuk-Nya?"

"Maka dari itu, jamaah yang dimuliakan Allah...

Marilah kita teguhkan hati:

Syukur dengan menjadikan nikmat-Nya sebagai jembatan untuk berbagi.

Tawakal dengan meyakini bahwa setiap ujian di Bekasi ini adalah jalan menuju kemuliaan.

Pada khutbah singkat ini, kita akan menyelami: Bagaimana qurban mengajari kita menjadi hamba yang bersyukur dan berserah diri di tengah tantangan zaman..."

"Jamaah yang dirahmati Allah...

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengangkat pisau di atas leher putra tercintanya, bukan darah yang Allah mintatetapi ketulusan hati. Ketika Ismail bersedia merebahkan tubuhnya, bukan nyawa yang diambilmelawan jiwa ketaatan yang dikorbankan.

Inilah esensi qurban yang sering kita lupakan:

‘Ibadatun-nafs’ (pengorbanan jiwa) lebih mulia daripada ‘Ibadatul-mâl’ (pengorbanan harta).

Allah berfirman:


لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ

"Daging (hewan qurban) dan darahnya itu tidak akan pernah sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya." (QS. Al-Hajj: 37)

Lihatlah! Daging dan darah — simbol materi — tak bernilai di hadapan-Nya. Yang Maha Kuasa justru menuntut ketakwaan:

Ketakwaan yang terwujud saat kita menyembelih keserakahan di tengah gemerlap mall dan pusat perbelanjaan Kota Bekasi...

Ketakwaan yang lahir ketika kita mengorbankan ego untuk mendahulukan kepentingan tetangga yang kelaparan...

Ketakwaan yang tumbuh saat kita merobek apatis lalu peduli pada tangis anak yatim di pelosok pemukiman...

Pisau qurban kita hari ini harus lebih tajam dari pisau penyembelih!


Ia harus mampu:

Menyembelih Ego

Saat kita merasa paling suci karena berqurban, padahal masih enggan menyapa saudara yang berbeda pilihan.

Saat kita membanggakan hewan termahal, tapi lupa bahwa "sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat" (HR. Ahmad).

Menyembelih Kerakusan

Di kota metropolitan seperti Bekasi, kita diuji oleh godaan konsumerisme.

Qurban mengajarkan: "Bukan banyaknya harta yang membuat mulia, tapi seberapa tulus kita melepasnya untuk Allah."

Seorang ibu penjaga warung di Pondok Gede yang menyisihkan Rp 10.000/hari selama setahun demi seekor kambing qurban.

Allah tak butuh daging kambing kita, tapi Ia rindu pada empati kita pada korban konflik Gaza.

Ia tak ingin darah sapi mengalir, tapi Ia menuntut darah kepedulian kita pada warga sekitar yang terancam gusur.

Ujian Ibrahim bukanlah ujian pisau terhadap leher Ismail, melainkan ujian pisau terhadap ‘diri palsu’ dalam hati manusia:

Keinginan untuk dipuji ketika berqurban,

Angan-angan superioritas karena mampu membeli hewan besar,

Pikiran sempit yang hanya membagi daging pada kerabat dekat.

Saudaraku...

 

Jika hewan qurban boleh cacat fisik, tapi hati kita tak boleh cacat spiritual!


Sebagaimana sabda Rasulullah :

"Sesungguhnya Allah tidak melihat pada tubuh dan rupamu, tapi pada hati dan amalmu." (HR. Muslim)

Maka, setelah hewan ini disembelih:

Sembelih pula ghibah yang selama ini meracuni ukhuwah di lingkungan kita.

Sembelih hasad yang membuat iri pada kesuksesan tetangga.

Sembelih sikap acuh pada nasib 500 anak yatim di Kota Bekasi yang butuh uluran tangan.

"Mari kita buktikan ketakwaan itu dengan:

Tazkiyatun-nafs (Penyucian Jiwa):

Sisihkan waktu 10 menit setiap usai shalat untuk muhasabah: "Sudahkah aku ‘menyembelih’ satu sifat buruk hari ini?"

Tazkiyatul-mâl (Penyucian Harta):

Selain berqurban, dukung program "Daging untuk Dhuafa Bekasi" dari Masjid Al Barkah.

Target tahun ini: 1.000 paket daging untuk pekerja serabutan, pemulung, dan janda tua.

Revolusi Sosial:

Jadikan momentum qurban untuk merajut silaturahmi dengan tetangga non-Muslim. "Bagikan daging qurban dengan kemasan yang ramah dan santun."

"Inilah qurban sejati: Mengorbankan apa yang kita cintai demi Yang Maha Mencintai.

Seperti Ibrahim yang ikhlas kehilangan Ismail untuk mendapatkan kembali Ismail yang suci...
Kita pun diundang: "Berani kehilangan ego demi mendapatkan hati yang bersih."

 

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَقِينَ الَّذِينَ يُؤْثِرُونَ مَحَبَّتَكَ عَلَى هَوَاهُمْ...


"Ya Allah, jadikan kami bagian dari orang-orang bertakwa yang mendahulukan cinta-Mu atas hawa nafsunya..."

"Saudaraku seiman, pewaris risalah rahmatan lil 'alamin...

Lihatlah hewan qurban yang kita sembelih hari ini: Darahnya mengalir, dagingnya terbagi, tapi pesannya abadi:

Bahwa pengorbanan hakiki adalah ketika berkahnya menyentuh yang tak terlihat oleh mata, yang terpinggirkan oleh sistem, dan yang terlupakan oleh zaman.

Allah menegaskan dalam Q.S. Al-Anbiya: 107:


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ


"Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam."

 

Ayat ini adalah DNA spiritual kita. Tapi di Bekasi yang penuh gedung pencakar langit ini, adakah rahmat itu telah menjadi DNA sosial kita?

Mari bertanya pada realita:

Saat 1 ekor sapi qurban bisa memberi makan 100 keluarga, mengapa masih ada 12.000 warga Bekasi (data BPS 2024) yang rawan pangan?

Saat masjid kita ramai oleh jamaah, mengapa tetangga kita yang sakit kronis masih berjuang sendiri biaya pengobatan?

Inilah panggilan qurban abad ke-15 H:

Mengubah ritual simbolik menjadi revolusi kepedulian!

Tiga Pilar Solidaritas Rahmatan Lil 'Alamin:

1.      Qurban Yang Membebaskan (تحرير القلوب)

 "Bukan sekadar membagikan daging, tapi membebaskan manusia dari belenggu:

 Kelaparan yang menghinakan martabat,

Kebodohan yang melanggengkan kemiskinan,

Keputusasaan yang mematikan iman.

Program Nyata dari Mimbar Ini:

 "Daging Untuk Pendidikan": Setiap paket daging disertai formulir beasiswa untuk anak pemulung di Bantar Gebang.

"QURBAN PRODUKTIF": Alokasikan 10% dana qurban untuk pelatihan keterampilan warga miskin (contoh: mengolah jeroan jadi pangan bernilai jual).

 2.      Qurban Yang Menyatukan (توحيد الصفوف)

 "Di kota multikultural seperti Bekasi, qurban harus menjadi jembatan ukhuwah:

 Bagikan daging dengan kemasan santun kepada non-Muslim sambil berkata:

"Ini hadiah Idul Adha kami, semoga mempererat persaudaraan kita."

 Kolaborasi dengan Gereja/Klenteng setempat untuk program sosial bersama (misal: renovasi rumah warga jompo).

 Teladan Nabi :

Saat beliau berqurban, yang pertama menerima daging adalah orang-orang non-Muslim yang memusuhinya (Sirah Ibn Hisyam).

 3.      Qurban Yang Memelihara Bumi (حفظ البيئة)

 "Masjid Al Barkah bisa menjadi pelopor Green Qurban:

Ganti kantong plastik dengan daun pisang/wadah ramah lingkungan.

Olah kotoran hewan jadi biogas untuk dapur umum.

 Tanam 1 pohon untuk setiap hewan qurban di lahan kritis Bekasi Utara.

 Ingatlah:

"Tidaklah seorang Muslim menanam pohon, lalu dimakan burung/manusia, melainkan itu sedekah baginya." (HR. Muslim).

"Saudaraku, pewaris risalah Nabi Ibrahim...

Saat kita menyembelih hewan qurban di Bekasi yang damai ini, dengarlah jeritan dunia:

Jeritan bayi-bayi Gaza yang terkubur reruntuhan,

Tangis pengungsi Sudan yang kehausan di padang pasir,

Rintihan etnis Rohingya yang terombang-ambing di lautan.

Inikah dunia yang kita wariskan?

Di mana nilai pengorbanan Nabi Ibrahim – yang rela kehilangan demi menyelamatkan – telah berganti dengan nafsu kuasa yang merampas demi keserakahan?

Allah mengingatkan:


وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ


"Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi." (QS. Ash-Shu’ara: 183)

Tiga Krisis Global & Jawaban Nilai Qurban:

 1.      Krisis Kemanusiaan: Ketika Dunia Membisu atas Palestina

"Lihatlah! Qurban terbesar abad ini justru terjadi di Gaza:

 Seorang ibu mengorbankan jatah makannya untuk anaknya yang kelaparan,

Seorang dokter mengorbankan nyawanya menyelamatkan pasien di bawah bom.

 Lalu di mana posisi kita?

Apakah qurban kita hanya untuk pesta daging keluarga, sementara 34.000 syuhada Palestina (data OCHA Mei 2025) menunggu solidaritas?

 Aksi Nyata dari Masjid Al Barkah:

Khususkan 1 ekor sapi qurban untuk korban Gaza.

Galang donasi "Qurban untuk Palestina" via lembaga terpercaya (Dompet Dhuafa/Aksi Cepat Tanggap).

 2.      Krisis Kapitalisme: Saat Kekayaan Hanya Berputar di 1% Dunia

 "Sistem ekonomi global hari ini adalah anti-tesis qurban:

Qurban mengajak berbagi, kapitalisme mengajak menimbun,

Qurban mensucikan harta, kapitalisme mengkultuskan harta.

Tegakkan Keadilan dengan Dompet Qurban:

Hukumkan: Setiap Rp 1 juta dana qurban kita, harus ada Rp 10 ribu untuk dhuafa global.

Boikot Halus: Kurangi belanja merek pendukung Zionis; alihkan dana untuk wakaf air bersih Afrika.

 3.      Krisis Lingkungan: Bumi Menangis Akibat Keserakahan

"Qurban kita pun harus menyembelih kebiasaan merusak bumi:

Sampah plastik Idul Adha Indonesia mencapai 18.000 ton (KLHK 2024).

Emisi metana dari peternakan menyumbang 14.5% pemanasan global (FAO).

Green Jihad dari Bekasi untuk Dunia:

Qurban Zero Waste:

Pakai daun jati/kantong kertas untuk bungkus daging.

Olah jeroan jadi pangan (bukan dibuang ke sungai!).

Qurban Penghijauan:

Tanam 5 pohon keras (trembesi/mahoni) untuk setiap ekor sapi qurban.

Proyeksi Umat Rahmatan Lil 'Alamin:

"Nabi bersabda:


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ

 

"Perumpamaan orang beriman dalam cinta dan kasih sayang bagaikan satu tubuh." (HR. Muslim)

Artinya:

Luka di Gaza adalah luka kita.

Kelaparan di Sudan adalah urusan kita.

Polusi di Bekasi adalah tanggung jawab kita.

 Mari wujudkan dalam 3 langkah:

 DONASI BERKUALITAS:

Tak cukup hanya uang, tapi juga ilmu (kirim relawan medis ke konflik).

 ADVOKASI:

Gunakan media sosial untuk suarakan keadilan Palestina.

 Life Style Qurban:

Kurangi konsumsi daging berlebih; sisihkan dana untuk program pangan dunia.

 Tantangan Spiritual:

 "Hari ini, kita diuji:

 Mana yang lebih kita banggakan: sapi qurban 1,2 ton, atau sumur wakaf untuk pengungsi Sudan yang menyelamatkan 500 jiwa?

 Mana yang lebih kita pilih: pesta rendang 7 hari, atau mengirim 100 paket makanan untuk anak-anak Yemen?

Ingatlah:
"Tidak beriman kepadaku siapa yang tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan." (HR. Al-Bazzar).

 "Maka, jadikan qurban tahun ini sebagai REVOLUSI KESADARAN:

 Bahwa pisau penyembelih di Bekasi ini adalah senjata melawan ketidakadilan global!

 Bahwa darah hewan qurban adalah catatan protes atas penindasan di bumi Allah!

 Bahwa daging yang terbagi adalah simbol bahwa umat Islam adalah satu tubuh yang tak terpisahkan!

 

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِينَ وَالسُّودَانِ... وَاجْعَلْنَا لَهُمْ عَوْنًا

"Ya Allah, tolonglah saudara kami di Palestina dan Sudan... jadikan kami penolong bagi mereka."

 Qurban Sebagai "Operasi Bedah" Social Harmony:

 1.      Menyembelih Prasangka (ذَبْحُ الظُّنُونِ)

 "Setiap tetes darah hewan qurban mengingatkan:

"Prasangka buruk adalah qurban palsu yang meracuni persaudaraan."

 Teladan Nabi :

Saat membagi daging qurban, beliau mengirimkan bagian untuk Ummu Ma’bad – perempuan Badui non-Muslim yang pernah menjual susu kepadanya dalam perjalanan hijrah.

Aksi Nyata di Bekasi:

"Proyek 1000 Senyum": Ajak jamaah berkunjung ke panti jompo Kristen "Kasih Abadi" di Jatiasih sambil membawa daging qurban dan berkata:
"Ini hadiah hari raya kami, terima kasih telah menjadi bagian dari tetangga kami."

 2.      MENGORBANKAN EGO POLITIK (تَضْحِيَةُ الأَنْانِيَّةِ)

 "Di kota tempat 43% warganya adalah pendatang (BPS 2024), qurban harus menjadi pisau pemotong ego kesukuan:

Kisah Nyata: Konflik antarwarga Kampung Ambon dan Kampung Bali di Bekasi Timur tahun 2023 berakhir damai karena remaja masjid menginisiasi "Proyek Qurban Bersama".

Formula Ukhuwah dari Mimbar Ini:

"Maafkan Sebelum Menyembelih":

Jabat tangan 3 orang yang pernah berselisih pilihan politik denganmu.

"Daging Pemersatu":

Bagikan paket daging bertuliskan: "Dari Saudaramu Seiman, Terlepas Beda Pilihan Kita."

 3.      Merajut Bhiṇneka Dalam Ritual

"Qurban kita adalah manifestasi ketunggalan Ilaḥi dalam keberagaman:

Daging Sapi Betawi dari petani lokal,

Kambing Jawa dari pedagang Muslim Cina,

Pisau Penyembelih buatan pandai besi Kristen.

Inilah Indonesia!

Sebagaimana sabda Rasulullah :
"Perumpamaan orang beriman dalam saling mencintai bagaikan satu tubuh..." (HR. Muslim)

PROGRAM "BEKASI SATU QURBAN":

DAPUR BHIṆNEKA:

Undang ibu-ibu lintas agama masak bersama olahan daging qurban di halaman masjid.

SILATURRAHIM DIGITAL:

Bagikan video rekonsiliasi warga beda etnis di media sosial masjid dengan tagar #QurbanMemersatukan.

DEKLARASI DAMAI:

Tanda tangani spanduk: "Warga Bekasi Bersatu: Tidak Ada Lagi Kalimat Kasar atas Nama Perbedaan!"

"Hari ini kita diuji:

Mana yang lebih mulia: menyembelih sapi premium, atau menyembelih kebencian pada mantan rival politik?

Mana yang lebih ikhlas: berqurban 10 juta, atau memaafkan orang yang menyakiti keluargamu?

Firman Allah mengingatkan:


وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ


"Balasan keburukan adalah keburukan yang setara. Tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya dari Allah." (QS. Ash-Shura: 40)

"Maka, setelah hewan ini disembelih:

Sembelih pula dendam pada mantan lawan pilkada.

Sembelih kecurigaan pada saudara beda madzhab.

Sembelih keangkuhan pada tetangga non-Muslim.

Jadikan qurban ini revolusi hati:

"Kita berbeda pilihan politik, tapi satu dalam cinta pada Negeri Kita

Kita beda cara ibadah, tapi satu dalam doa untuk Indonesia."

 

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا...


"Ya Allah, satukanlah hati kami, dan perbaikilah hubungan di antara kami..."

"Warga Masjid Al Barkah yang dirahmati Allah...

Sebentar lagi, pisau akan menyentuh leher hewan qurban kita. Tapi izinkan saya bertanya: Sudahkah ‘pisau ketakwaan’ kita menyentuh leher sifat-sifat yang menghancurkan persaudaraan?

Idul Adha tahun ini mengajak kita pada revolusi makna:
"Bukan hanya kambing atau sapi yang kita qurbankan, tetapi juga:

  • Sikap acuh pada tetangga yang terancam gusur di Bantar Gebang,
  • Kebencian pada saudara beda pilihan yang pernah menyakiti hati,
  • Ketidakpedulian pada jeritan anak-anak Palestina yang kehilangan masa kecil."

Inilah qurban sejati:

  • Mengorbankan ego untuk menyapa kembali mantan lawan politik di komplek ini,
  • Mengorbankan gengsi untuk duduk makan bersama pekerja migran di belakang masjid,
  • Mengorbankan waktu untuk mengajar anak-anak marjinal di kolong tol Bekasi Barat.

Tiga Transformasi Yang Kita Deklarasikan Hari Ini:

1. Transformasi Diri

"Dari hamba yang bangga pada hewan qurban, menjadi hamba yang tawadhu’ karena menyadari:
‘Daging dan darah ini tak sampai pada-Mu, Ya Rabb, hanya hati yang ikhlaslah yang Kau terima...’”

2. Transformasi Sosial

*"Dari masjid yang ramai di hari raya, menjadi masjid yang mengalirkan rahmat tiap hari:

  • Menjadi bank sampah untuk kurangi polusi Kali Bekasi,
  • Menjadi sekolah alternatif untuk anak putus sekolah,
  • Menjadi dapur umum saat banjir melanda."*

3. Transformasi Kemanusiaan

"Dari warga Bekasi yang sibuk dengan urusan sendiri, menjadi manusia dunia yang berdegup kencang saat kemanusiaan terluka di Gaza, Sudan, atau Rohingya."

 "اللهمَّ أَصْلِحْ لَنَا فِيْ بَيْكَاسِيَ خِطَطَنَا، وَارْزُقْنَا مِنْ خَيْرَاتِ أَرْضِهَا، وَاحْفَظْ أَبْنَاءَهَا مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ...

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَ شَعْبِ إِنْدُونِيسِيَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فِي كُلِّ مَكَانٍ...
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِينَ، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَ الْمُسْلِمِينَ فِي السُّودَانِ وَمِيَانْمَارَ، وَاجْعَلْ لَهُمْ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا...
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ...
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ."

(Terjemahan Doa):

"Ya Allah, perbaiki rencana kami untuk Bekasi, limpahkan kebaikan tanahnya, lindungi warganya dari fitnah yang nyata maupun tersembunyi...
Ya Allah, satukan barisan rakyat Indonesia, satukan hati umat Muhammad di seluruh penjuru...
Ya Allah, tolonglah saudara kami di Palestina, kasihanilah kaum Muslimin yang lemah di Sudan dan Myanmar, berikan mereka jalan keluar dari setiap kesulitan...
Wahai Rabb kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungi kami dari siksa neraka...
Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Mulia dari segala yang mereka sifatkan. Salam sejahtera bagi para rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam."

"Maka, pulanglah hari ini dengan membawa tiga qurban:

  1. Qurban hewan untuk dibagikan pada yang lapar,
  2. Qurban sifat untuk dikuburkan selamanya,
  3. Qurban tekad untuk membangun Bekasi sebagai kota Rahmatan lil 'Alamin.

"Karena sesungguhnya, kau tak perlu pergi ke Mina untuk berqurban. Qurban terbesarmu dimulai saat kau menyembelih kesombongan di depan cermin pagi ini."

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ...
"Saya akhiri khutbah ini, dan mohon ampun kepada Allah untuk saya dan Anda sekalian..."

 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan Ahmad Sukandar Pendahuluan Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional, yang mewariskan filosofi “Tut Wuri Handayani” (mendorong dari belakang dengan memberi ruang kemandirian). Di tengah dinamika global seperti revolusi teknologi, krisis iklim, dan polarisasi sosial, pendidikan tidak hanya menjadi instrumen mobilitas vertikal individu, tetapi juga pondasi ketahanan bangsa. Artikel ini merefleksikan progres, tantangan, dan solusi sistem pendidikan Indonesia dalam perspektif kekinian, dengan menekankan pada integrasi kebijakan inklusif, peningkatan kualitas guru, dan kolaborasi multipihak. I . Pendidikan sebagai Poros Pembangunan SDM di Era VUCA Era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) menuntut sistem pendidikan yang adaptif. Berdasarkan laporan Wor...

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam Oleh: Ahmad Sukandar Abstrak Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang program pendidikan barak militer ala Dedi Mulyadi mengungkap berbagai pelanggaran terhadap prinsip dasar pendidikan dan hak anak. Artikel ini menganalisis temuan tersebut dari perspektif ilmu pendidikan dan manajemen pendidikan, sekaligus menawarkan solusi berbasis pendidikan Islam. Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman, membebaskan, dan memberdayakan anak, bukan ajang intimidasi terselubung dengan dalih pembentukan karakter. Dalam konteks ini, nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, penghormatan terhadap fitrah anak, dan keteladanan menjadi alternatif paradigmatik yang sangat relevan. Pendahuluan Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak dan merupakan pilar utama pembentukan kepribadian, akhlak, dan peradaban. Namun, ketika pendidikan disalahartika...