SAJAK ARAFAT: TIRAI RINDU DI PADANG MA'RIFAT
Hamparan sahara membentang sunyi,
Debu-debu taubat mengapur diri.
Di panggung Ilahi, jiwa-jiwa bersimpuh:
“Kami debu-Mu, yang Kau suluh.”
Seribu bahasa, serupa ratap:
“Hancurkan tembok sombong yang menutup!”
Kain ihram putih bagai kain kafan,
Menggenggam fana di telapak zaman.
Langit biru tinggi jadi saksi bisu,
Tangis pecah: rindu bertemu Rindu.
Diam-diam mencekam, tapi berdentang—
Suara qalbu menembus tembok langit tujuh.
Wukuf: puncak fana dalam sekalip,
Dunia terhenti, waktu pun patah.
Di sini, raja dan fakir serupa:
Dua tetes air mata mengalir ke Ka’bah.
Padang tandus-Mu jadi taman makrifat,
Rahmat turun bagai hujan rahmat.
“Dosa setahun lalu dan nanti—
Di sini, di telapak tangan-Mu, kupatri.”
Bagi yang jauh: merenunglah dalam,
Bukalah hijab, pecahkan kebekuan.
“Sudahkah kau ‘berwukuf’ di rimba hidup?
Mengosongkan diri dari dunia yang penuh tipu?”
Air mata taubat—sungai penyuci,
Membasuh noda, mengurai benci.
“Ya Rabb, hamba-Mu yang hina ini,
Runtuh di Arafat-Mu, mengeja Asma-Mu yang suci.”
Di sini, kerendahan adalah mahkota,
Keagungan terletak pada doa yang tercecah.
“Aku—butiran pasir di gurun maaf-Mu,
Tertelan luasnya samudera rahmat-Mu.”
Komentar
Posting Komentar