Langsung ke konten utama

RITUAL IBADAH QURBAN; KETELADAN YANG HARUS DILANJUTKAN

Allah Ta'ala Berfirman
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia (QS Al-Mumtahanah:4)
Perintah Qurban menuntun kita  kembali kepada dimensi sejarah, tanggung jawab sosial kekinian serta masa depan keummatan. Peristiwa itu mengingatkan kita  kembali kepada pada  kisah melodramatis yang terjadi antara nabi Ibrahim dan Ismail AS, serta kisah yang disunnahkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Ibrahim dan nabi Ismail AS dengan hadirnya peristiwa berkorban itu.
Peristiwa agung penyembelihan Ismail memberikan pelajaran sangat dalam dan bermakna bagi kita, , betapa pentingnya pengorbanan tulus kita untuk penegakan nilai-nilai agama yang bisa hadir nyata dalam realitas, dan menancap kuat di tengah masyarakat. Bagi kita ummat Islam, apapun yang ada pada diri kita, kita rela kurbankan asal untuk kepentingan agama, sebagaimana yang diteladankan Nabi Ibrahim As. Kita komitmen untuk konsisten dalam jalan Allah yang lurus.
Sejarah kita saat ini sangat membutuhkan kesinambungan sejarah pengorbanan, reaktualisasi pengorbanan itu sendiri serta keberlanjutan dari hadirnya faktor sukses akibat dari dilanjutkannya tradisi berqurban secara ikhlas dan benar.
Pengorbanan kita akan bermakna jika pada keimanan dan ketakwaan. Al-Quran menjelaskan hal ini di dalam surat Al-hajj ayat 37 :
“ Sekali-kali Allah tidak akan menerima daging maupun darah dari hewan qurban, tetapi yang diterima oleh Allah adalah sikap takwa yang menyemangati berqurban itu, demikianlah Allah telah menciptakan hewan-hewan qurban itu agar kalian selalu dapat mengagungkan Allah SWT dan mensyukuri hidayahNya kepada kalian semua, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat ihsan”.
Pembangunan negeri kita tercinta, membutuhkan  manusia-manusia yang bersemangat untuk menapak tilas keteladanan Ibrahim agar bangsa yang setengah ‘merana’ ini kembali berjaya menjadi sebuah negeri makmur, aman dan sentosa sebagaimana yang pernah Ibrahim AS panjatkan doa kepada Allah :
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا ءَامِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ ءَامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". (QS, al-Baqarah: 126)
Ibrahim adalah suri tauladan abadi. Ketundukannya kepada sistem kepercayaan, nilai-nilai dan tata aturan ilahiah selalu menjadi contoh yang hidup sepanjang masa. Dia telah mengabadikan dirinya tatkala dia dengan sadar melakukan kebaikan dan kebajikan yang terus berbuah dan bisa dipetik buah ranumnya oleh manusia setelahnya.
Rasulullah SAW  memberikan isyarat tentang situasi yang akan menimpa sebuah bangsa yang tidak konsisten menjalan tata aturan agama. Mereka akan dilanda berbagai krisis (sosial, politik, ekonomi, moral, dan budaya) yang berkepanjangan.
إذا اقترب الزمان كثر لبس الطيالسة وكثرت التجارة وكثر المال وعظم رب المال وكثرت الفاحشة وكانت إمرة الصبيان وكثر النساء وجار السلطان وطفف في المكيال والميزان يربي الرجل جرو كلب خير له من أن يربي ولداً ولا يوقر كبير ولا يرحم صغير ويكثر أولاد الزنا حتى إن الرجل ليغشى المرأة على قارعة الطريق فيقول أمثلهم في ذلك الزمان: لو اعتزلتم عن الطريق، يلبسون جلود الضأن على قلوب الذئاب أمثلهم في ذلك الزمان المداهن".( الطبراني) ‏
“Apabila akhir zaman semakin dekat maka banyak orang yang berpakaian jubah, dominasi perdagangan, harta kekayaan melimpah, para pemilik modal diagungkan, kemesuman merajalela, kanak-kanak dijadikan pemimpin, dominasi perempuan, kelaliman penguasa, manipulasi takaran dan timbangan, orang lebih suka memelihara anjing piaraannya daripada anaknya sendiri, tidak menghormati orang yang lebih tua, tidak menyayangi yang kecil, membiaknya anak-anak zina, sampai-sampai orang bisa menyetubuhi perempuan di tengah jalan, maka orang yang paling baik di zaman itu hanya bisa mengatakan: tolonglah kalian menyingkri dari jalan, mereka berpakaian kulit domba tetapi berhati serigala, orang paling ideal di zaman itu adalah para penjilat.” (HR, Thabrani)
Secara zahir dapat kita saksikan, ada sosok manusia berpenampilan religius, rapih, bersih, menarik, perlente, dengan gaya dan isi pembicaraan yang memukau seperti ingin visual dan keberpihakan kepada kejujuran dan keadilan. Padahal,  kondisi sebenarnya  mereka membenci dan memusuhi tegaknya kebenaran dan keadilan dalam kehidupan bahkan untuk dirinya sendiri. 
.
Celakanya, tampilan diri yang dapat menutupi dan mengelabui pandangan orang tentang kondisi bathin yang sebenarnya jadi jalan hidup penuh dengan kepura-puraan telah menjadi gambaran sosial yang membudaya. Kebiasaan, yang terjerembab dalam menyambungkan berbagai perilaku menyimpang yang sedang menghadapi keamanan dan kenyamanan hidup bermasyarakat. Tentu saja gaya hidup seperti itulah yang mengobarkan kemunafiqan dan kepura-puraan di semua sektor kehidupan. Di sana ada politisi busuk, birokrat tengik, pemimpin yang tidak berkualitas yang hanya mengeruk kekayaan buat sendiri sendiri, pedagang culas yang tidak mengindahkan norma-norma, para suami yang tidak berdaya, dan merebaknya dekadensi moral yang dilakukan masyarakat terrain terangan.

Dalam waktu yang sama ketidakberdayaan untuk memberantas berbagai jenis perilaku menyimpang itu telah menyerang semua lapisan masyarakat. Orang yang berubah - ubah. Perilakunya telah melenceng jauh dari nilai dan aturan agama. Salah satunya adalah pandangan masyarakat tentang masalah menjaga kesucian diri dari segala hal nista dan dari bahaya hubungan seksual di luar nikah (zina).

Berzina dianggap sebagai salah satu ciri gaya hidup modern dan penutup aibnya dengan dalih sebagai 'zaman'. Kemudian pandangan ini dipopulerkan di tengah masyarakat, jadilah perubahan-perubahan norma sosial. Berbagai perilaku menyimpang terjadi di mana-mana. Dari mulai kejahatan politik sampai kejahatan moral. Masyarakat yang susah untuk memilah dan membedakan mana perbuatan yang baik yang dapat membawa keamanan dan kebahagiaan hidup, dan dimana perbuatan buruk yang dapat membawa kesengsaraan pada kehidupan. 

Kondisi seperti pasti akan mengobarkan dekadensi moral di mana-mana. Menurut data BKKBN: 1,6 juta orang melakukan aborsi. Tahun 2009,  Praktik aborsi kalangan remaja di Jabar mencapai 160 hingga 200 ribu kasus per tahun , Penelitian lain dari Pusat Informasi Keluarga Berkualitas mencatat: di Indonesia terjadi 2,5 juta aborsi setiap tahunnya, sebagiannya dilakukan oleh remaja. Menurut PKBI Wonosobo, 1/3 remaja puteri di Wonosobo sudah hamil di luar nikah. Sedang di Yogyakarta setiap bulan ada 30 anak kos yang hamil. Di Palembang tertangkap 20% mahasiswi melakukan hubungan seks pranikah. Di Surabaya, 6 dari 10 gadis tidak perawan lagi. Dalam catatan Dr. Boyke Dian Nugraha diperkirakan 20-15 persen remaja Indonesia pernah ngeseks sebelum nikah.

Kebejatan moral seperti itu masih diperparah oleh perilaku para pemipin bangsa yang bobrok. Mereka terus melakukan korupsi dan manipulasi, penipuan dan jabatan jabatan. Survei Risiko Politik dan Ekonomi (PERC) Th.2002 mencatat Indonesia sebagai negara terkorup di Asia. Sementara versi korupsi Transparancy International (TI) menempatkan Indonesia pada posisi ketujuh terkorup di 102 negara.

Dalam dunia ekonomi kita mengalami keterpurukan luar biasa yang menyebabkan kita dikangkangi sistem kapitalisme global yang terus memiskinkan bangsa-bangsa di dunia. Lihat saja. Ini adalah contoh dari kata kunci dalam bahasa indonesia. 

Celakanya sampai saat ini belum terlihat upaya serius untuk keluar dari krisis yang telah mengepung bangsa ini. Lebih celaka lagi masih terlihat keengganan bangsa ini, termasuk dari kalangan pemimpinnya, untuk kembali ke akar budayanya, yaitu Islam yang dilukiskan oleh Nabi Ibrahim sebagai satu-satunya jalan menuju tujuan cita cita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan

Meneruskan Semangat Hardiknas: Transformasi Pendidikan Indonesia di Tengah Arus Disrupsi dan Ketimpangan Ahmad Sukandar Pendahuluan Setiap 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional, yang mewariskan filosofi “Tut Wuri Handayani” (mendorong dari belakang dengan memberi ruang kemandirian). Di tengah dinamika global seperti revolusi teknologi, krisis iklim, dan polarisasi sosial, pendidikan tidak hanya menjadi instrumen mobilitas vertikal individu, tetapi juga pondasi ketahanan bangsa. Artikel ini merefleksikan progres, tantangan, dan solusi sistem pendidikan Indonesia dalam perspektif kekinian, dengan menekankan pada integrasi kebijakan inklusif, peningkatan kualitas guru, dan kolaborasi multipihak. I . Pendidikan sebagai Poros Pembangunan SDM di Era VUCA Era Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA) menuntut sistem pendidikan yang adaptif. Berdasarkan laporan Wor...

"QURBAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL: MENJADI UMAT YANG RAHMATAN LIL ‘ALAMIN DI TENGAH TANTANGAN GLOBAL DAN LOKAL"

Dr. Ahmad Sukandar, S. Ag, M. MPd     اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَ...

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam

Mewaspadai Pendekatan Militeristik dalam Pendidikan: Refleksi Kritis atas Temuan KPAI dan Tawaran Solusi Berbasis Pendidikan Islam Oleh: Ahmad Sukandar Abstrak Laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang program pendidikan barak militer ala Dedi Mulyadi mengungkap berbagai pelanggaran terhadap prinsip dasar pendidikan dan hak anak. Artikel ini menganalisis temuan tersebut dari perspektif ilmu pendidikan dan manajemen pendidikan, sekaligus menawarkan solusi berbasis pendidikan Islam. Pendidikan seharusnya menjadi ruang aman, membebaskan, dan memberdayakan anak, bukan ajang intimidasi terselubung dengan dalih pembentukan karakter. Dalam konteks ini, nilai-nilai pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, penghormatan terhadap fitrah anak, dan keteladanan menjadi alternatif paradigmatik yang sangat relevan. Pendahuluan Pendidikan merupakan hak dasar setiap anak dan merupakan pilar utama pembentukan kepribadian, akhlak, dan peradaban. Namun, ketika pendidikan disalahartika...