Langsung ke konten utama

Postingan

Tips Jitu Menjadi Kepala Sekolah Sukses: Pendekatan Manajemen Terpadu dengan Perspektif Teologis Islam

Ahmad Sukandar Pendahuluan Kepemimpinan dalam dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berdaya saing. Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas pengelolaan operasional dan peningkatan prestasi akademis, tetapi juga harus mampu menginspirasi dan memberdayakan seluruh civitas sekolah. Artikel ini menguraikan sepuluh prinsip manajemen yang bersumber dari buku The Rules of Management karya Richard Templar, diadaptasi untuk konteks kepemimpinan sekolah. Di samping itu, ditambahkan sentuhan perspektif teologis Islam yang menekankan nilai-nilai keadilan, amanah, dan integritas dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Pendidikan dan Dukungan Empirik 1. Memimpin dengan Teladan Kepemimpinan yang efektif dimulai dari keteladanan. Kepala sekolah yang secara konsisten menunjukkan perilaku disiplin, etos kerja yang tinggi, dan integritas akan menginspirasi guru dan staf. Dukungan Empirik: Leithwood et a...

Juz 18 Al-Qur’an: Relevansi Ajaran Islam dalam Menjawab Tantangan Sosial Kontemporer (Studi Analisis Terhadap Surah Al-Mu’minun, An-Nur, dan Al-Furqan)

Ahmad Sukandar Pendahuluan  Juz 18 Al-Qur’an mencakup tiga surah utama: Al-Mu’minun (23:1-118), An-Nur (24:1-64), dan Al-Furqan (25:1-20). Ketiganya menawarkan kerangka filosofis, hukum, dan spiritual yang tidak hanya relevan pada masa turunnya, tetapi juga menjadi solusi bagi krisis sosial-kemanusiaan di era modern. Artikel ini menganalisis lima pelajaran utama Juz 18 dan korelasinya dengan fenomena kontemporer, seperti degradasi moral, ketidakadilan sistemik, disinformasi digital, krisis ekologis, serta hegemoni materialisme.   1. Pilar Iman dan Akhlak: Integritas, Kesucian Diri, dan Tanggung Jawab Sosial Teks Kunci:   - “Sungguh beruntung orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, menjauhi perkara sia-sia, menunaikan zakat, dan menjaga kemaluannya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-5).   Relevansi Kontemporer:   - Krisis Identitas Moral di Era Digital:     Survei Pew Research Center (2023) menunjukkan 67% generasi Z mengakui kesulitan mem...

Dari Nuzulul Qur’an hingga Tahfidz: Kecintaan Umat terhadap Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup

Ahmad Sukandar  Pendahuluan Al-Qur’an bukan sekadar kumpulan ayat yang turun sebagai mukjizat, melainkan manifestasi kasih sayang Allah kepada manusia. Proses turunnya (Nuzulul Qur’an), cara berinteraksi (tilawah, tadabbur, tahfidz), hingga pengamalannya merupakan rangkaian integral yang membentuk identitas spiritual umat Islam. Artikel ini bertujuan mengelaborasi hakikat Al-Qur’an dari aspek historis-teologis hingga praktis, sebagai upaya menyadarkan umat akan urgensi mencintai dan menghidupkan Al-Qur’an dalam kehidupan.   I. Nuzulul Qur’an: Peristiwa Sakral yang Mengubah Peradaban 1. Turun Secara Sekaligus (Inzāl) ke Langit Dunia - Dasar Qurani:   Q.S. Al-Qadr (97:1) dan Al-Dukhan (44:3) menegaskan Al-Qur’an turun pada *Lailatul Qadr*, malam yang lebih baik dari seribu bulan.   - Makna Teologis:     Turunnya Al-Qur’an sekaligus ke Bayt al-‘Izzah (langit dunia) menunjukkan kesempurnaan dan kemukjizatannya sebagai wahyu final. Ini juga menjad...

Peran Akal dalam Membangun Peradaban Gemilang: Sinergi Wawasan Neurosains Modern dan Pemikiran Islam

Ahmad Sukamdar Abstrak Artikel ini mengkaji peran akal sebagai karunia ilahi yang esensial bagi kemajuan peradaban manusia. Dengan mengintegrasikan temuan-temuan modern mengenai neuroplastisitas—di mana otak diibaratkan sebagai jaringan dinamis yang terus berevolusi—dengan pandangan mendalam para pemikir Islam klasik dan kontemporer, artikel ini menyoroti bagaimana pemanfaatan akal secara optimal dapat menjadi kunci dalam menciptakan peradaban yang berlandaskan pengetahuan, keadilan, dan nilai-nilai spiritual. Pendekatan multidisipliner ini diharapkan memberikan landasan konseptual dan praktis bagi pengembangan individu dan masyarakat dalam era modern. Pendahuluan Manusia dianugerahi akal sebagai anugerah terbesar yang membedakannya dari makhluk lain. Di satu sisi, perkembangan ilmu pengetahuan modern—seperti yang diungkap dalam buku An Internet in Your Head: Why We Age and Why We Don't Have To —menunjukkan bahwa otak kita memiliki kapasitas dinamis layaknya jaringan digital ya...

PUASA DAN SOLIDARITAS ILAHIAH: MENJADI KHOLIFAH YANG MENYATU DENGAN PENDERITAAN UMAT

  Ahmad sukandar Pendahuluan: Dari Perut Kosong ke Hati yang Bersaudara Di tengah dunia yang terfragmentasi oleh jurang ekonomi, ras, dan status sosial, puasa Ramadhan muncul sebagai  simulasi solidaritas ilahiah —sebuah latihan untuk mengembalikan manusia pada fungsi utamanya sebagai  khalifah  yang tidak hanya memimpin, tetapi juga merasakan denyut nadi penderitaan sesama. Saat lapar menyentuh perut, puasa membuka mata hati: bahwa air zamzam di gelas kita adalah tangisan anak Yaman yang kehausan, bahwa kurma di piring kita adalah jerih payah petani Gaza yang terkepung. Puasa bukan sekadar ibadah vertikal, melainkan  panggilan untuk menjadi jembatan kasih Allah di bumi . 1. Filsafat Solidaritas: Puasa sebagai Kritik atas Individualisme Modern Filsuf  Emmanuel Levinas  dalam  Totality and Infinity  menyatakan:  "Wajah orang lain adalah perintah etis yang menuntut tanggung jawab."  Puasa mewujudkan ini melalui: Penyamaan ...

Etika Berbicara dalam Perspektif Islam dan Wacana Kontemporer: Integrasi Ajaran Klasik dan Modern

Ahmad Sukandar Abstrak Artikel ini membahas pentingnya pengendalian ucapan sebagai bagian dari etika berkomunikasi dalam Islam dan bagaimana wawasan kontemporer, seperti yang diungkapkan oleh Karen Ehman dalam Keep It Shut , dapat diintegrasikan dengan prinsip-prinsip spiritual dan moral Islam. Fokus khusus diberikan pada ibadah puasa, yang tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menuntut pengendalian lisan agar tidak menyakiti dan mengganggu kesucian puasa. Pendahuluan Dalam dunia modern, di mana kebebasan berbicara sering dianggap sebagai suatu keutamaan, muncul pula tantangan dalam mengelola ucapan agar tidak merusak hubungan sosial maupun integritas pribadi. Karen Ehman, dalam Keep It Shut , menyajikan perspektif segar tentang kekuatan keheningan dan pentingnya memilih kapan hendak berbicara dengan tujuan yang jelas. Perspektif ini memiliki kemiripan dengan ajaran Islam yang menekankan bahwa “berkatilah lisan dengan kebaikan atau lebih baik diam,” sebagaimana...

PERMAAFAN DALAM ISLAM: MENJALIN HARMONI SPIRITUAL DAN TRANSFORMASI EMOSIONAL (Suatu Tinjauan atas Konsep Pengampunan dalam Ajaran Islam dan Kerangka “Forgiveness Is a Choice” karya Robert D. Enright)

Ahmad Sukandar Abstrak Artikel ini membahas konsep permaafan dalam perspektif Islam dan mengaitkannya dengan kerangka yang ditawarkan oleh Robert D. Enright dalam bukunya Forgiveness Is a Choice . Dalam Islam, permaafan (al-ʿafw) bukan hanya sekadar anjuran moral, tetapi juga manifestasi sifat Ilahi yang diinternalisasikan ke dalam kehidupan sosial umat. Sementara itu, Enright menawarkan pendekatan psikologis yang menekankan bahwa memaafkan adalah sebuah proses bertahap dan pilihan pribadi yang dapat membawa kesembuhan emosional. Dengan menggabungkan kedua sudut pandang ini, artikel ini menunjukkan bahwa permaafan tidak hanya memulihkan relasi sosial dan spiritual (ḥablum minannās dan ḥablum minallāh), tetapi juga berdampak positif pada kesejahteraan batin. Kata Kunci: Permaafan, al-ʿafw, Forgiveness Is a Choice, Robert D. Enright, Islam, kesejahteraan emosional, ḥablum minallāh, ḥablum minannās 1. Pendahuluan Permaafan atau pengampunan menempati posisi penting dalam ajaran Isl...