Ahmad Sukandar Pendahuluan Khatmul Qur’an di bulan Ramadhan bukan sekadar ritual mekanis atau tradisi simbolis, melainkan proses transformatif yang mengajak manusia untuk bercermin pada dua dimensi kebenaran: ayat-ayat qauliyyah (tertulis) dan ayat-ayat kauniyyah (alam semesta). Narasi ini mengalir dari tilawah (membaca) menuju tafakkur (merenung), dan dari huruf (simbol) menuju hikmah (esensi kebijaksanaan) Bulan Ramadhan tidak hanya menjadi momentum umat Muslim untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan emas untuk melakukan khatmul Qur’an —menyelesaikan pembacaan Al-Qur’an secara utuh. Namun, di tengah euforia "target khatam", esensi khatmul Qur’an sering kali tereduksi menjadi ritual tahunan yang minim transformasi. Padahal, Al-Qur’an sendiri menegaskan perannya sebagai “cermin” yang memantulkan hakikat diri manusia: ﴿كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ...
Selamat datang di Buya_Uninus – ruang intelektual yang menyatukan warisan keilmuan klasik dengan kearifan dan nilai-nilai keimanan. Di sini, setiap pemikiran dikaji secara kritis dan sistematis dengan landasan empiris, mengacu pada sumber-sumber otoritatif dari tradisi keilmuan Islam maupun pemikiran modern. Blog ini didedikasikan untuk para cendekiawan dan pencari kebenaran yang ingin menggali lebih dalam hubungan sinergis antara ilmu dan iman.